Rerata Harga Tembaga 2026 Diramal US$13.500, Dampak Tarif AS

BMI Research, lengan riset Fitch Solutions, merevisi proyeksi harga rata-rata tembaga untuk tahun 2026 menjadi US$13.500/metrik ton (mt).

Angka ini meningkat signifikan dari perkiraan sebelumnya di level US$12.700/mt.

Penyesuaian tersebut didorong oleh dislokasi pasar akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) serta kendala pasokan hulu yang terus berlanjut.

Kebijakan proteksionisme dagang dari Washington dinilai memicu distorsi besar pada ketersediaan tembaga di tingkat global.

“Ketidakpastian tarif AS menjadi katalis arah harga terdekat yang paling jelas, memberikan efek distorsi yang signifikan pada pasar, menciptakan kondisi defisit buatan di luar pasar AS karena ketersediaan tembaga global menjadi ketat,” ungkap BMI dalam risetnya, yang dilansir pekan ini.

Proyeksi harga tembaga./dok. BMI

 

Meski menghadapi berbagai hambatan makroekonomi, harga tembaga melonjak tajam sepanjang 2026.

Rata-rata harga tahun berjalan atau year to date (ytd) mencapai US$13.471/mt dan menembus US$14.421/mt pada 7 Oktober 2026, atau melambung 16,1% sejak awal tahun.

Tren kenaikan ini terus berlanjut selama kuartal III-2026 hingga mencapai rekor tertinggi harian US$14.875/mt pada 10September 2026.

Kendati sempat terkoreksi singkat akibat desas-desus kebijakan Gedung Putih, harga tembaga bertahan di atas US14.000/mt berkat dorongan permintaan yang kuat dari China dan gangguan pasokan dari Cili.

Masih Berfluktuasi

Menjelang akhir 2026, BMI memproyeksikan harga tembaga masih akan berfluktuasi secara tajam merespons dinamika kebijakan proteksionisme.

“Proyeksi kuartal IV-2026 [harga tembaga] senilai US$13.800/metrik ton mencerminkan moderasi dari level rekor tertinggi pada September, bukan sebuah pembalikan tren secara total,” tulis BMI.

Dari sisi analisis fundamental, BMI menilai kenaikan harga pasar saat ini sudah berada di luar batas wajar penawaran dan permintaan riil.

“BMI menilai bahwa reli harga saat ini telah melampaui batas yang didukung oleh fundamental semata, sehingga hasil kebijakan tarif AS tetap menjadi fokus perhatian utama,” tambah BMI.

Pergerakan harga tembaga di LME dan Comex dibayangi ketidakpastian tarif AS./dok. BMI

 

Di samping faktor tarif, ketatnya pasokan struktural diprediksi menjadi penahan agar harga tembaga tidak merosot terlalu dalam.

Namun, potensi kenaikan harga lebih lanjut tetap dibatasi oleh risiko makroekonomi, seperti penguatan dolar AS dan wacana kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) sebesar 50 basis poin lagi pada tahun ini.

Proyeksi 2027

Adapun, memasuki 2027, BMI memprediksi harga tembaga secara bertahap akan melandai. Analis BMI memaparkan proyeksi jangka panjang mereka.

“BMI memproyeksikan harga tembaga sebesar US$13.100/metrik ton pada kuartal I-2027, kemudian menurun secara bertahap hingga mencapai US$12.700/metrik ton pada kuartal IV-2027,” papar BMI.

Adapun, gambaran dinamika pasar serta arah pergerakan harga tembaga tersebut tecermin dalam perincian data realisasi dan proyeksi berdasarkan kontrak 3 bulan London Metal Exchange (LME) berikut:

  1. Kuartal I-2026 (aktual): US$12.878/mt
  2. Kuartal II-2026 (aktual): US$13.408/mt
  3. Kuartal III-2026 (aktual): US$14.037/mt
  4. Kuartal IV-2026 (proyeksi): BMI: US$13.800/mt, konsensus Bloomberg: US$13.895/mt
  5. Kuartal I-2027 (proyeksi): BMI: US$13.100/mt, konsensus Bloomberg: US$13.838/mt
  6. Kuartal II-2027 (proyeksi): BMI: US$13.000/mt, konsensus Bloomberg: US$13.600/mt
  7. Kuartal III-2027 (proyeksi): BMI: US$12.800/mt, konsensus Bloomberg: US$13.700/mt
  8. Kuartal IV-2027 (proyeksi): BMI: US$12.700/mt, konsensus Bloomberg: US$13.600/mt

Sebagai informasi, Pemerintah AS di bawah pimpinan Presiden Donald Trump sejak awal Agustus 2026 telah menetapkan kebijakan proteksionisme melalui pengenaan bea masuk tambahan sebesar 25% untuk produk tembaga olahan dan turunan yang masuk ke wilayah AS.

Langkah strategis ini diambil Washington dengan alasan melindungi industri manufaktur domestik serta memangkas ketergantungan pasokan logam kritis dari pasar luar negeri.

Penerapan tarif sebesar 25% tersebut langsung memicu dislokasi rantai pasok global secara drastis.

Para pelaku industri dan pedagang berbondong-bondong mengalihkan pasokan tembaga ke dalam pasar AS sebelum aturan berlaku penuh demi menghindari biaya tambahan, sehingga menciptakan defisit buatan (artificial shortage) di luar pasar AS.

Ketimpangan ini membuat stok tembaga di bursa global—seperti London Metal Exchange (LME)—menjadi sangat ketat dan mendorong kenaikan harga tembaga global hingga sempat menembus rekor rekor tertinggi harian sebesar US$14.875/mt pada 10 September 2026.

Selain tarif impor umum, pasar juga dibayangi oleh ketidakpastian rencana kebijakan susulan dari Gedung Putih, termasuk wacana evaluasi tarif berkala dan pembatasan kuota logistik.

Spekulasi mengenai ketatnya regulasi ini memicu aksi borong (panic buying) oleh para pembeli global pada kuartal III-2026.

Berdasarkan data LME, selama periode Juli hingga September 2026, total volume perdagangan kontrak tembaga di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) mencatatkan kenaikan volume harian rata-rata hingga 38% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Peningkatan volume transaksi yang masif ini diiringi oleh lonjakan penarikan persediaan fisik tembaga (warrant cancellation) di gudang-gudang LME global sebesar 42%, di mana para pelaku pasar berburu pasokan sebelum rantai distribusi makin terdistorsi oleh tarif AS. (smr/wdh)

Sumber:

– 15/10/2026

Temukan Informasi Terkini

Bahlil Targetkan Ekspor Nikel RI Capai Rp 805,5 Triliun pada 2026

baca selengkapnya

BUMI Pacu Transformasi Bisnis dan Tata Kelola

baca selengkapnya

Bahlil Targetkan Investasi Hilirisasi Tembus Rp11.069 Triliun pada 2040

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top