Harga nikel dunia kembali naik hingga menyentuh level di atas US$18.000 per ton pada awal tahun ini. Level harga ini terakhir kali dicapai pada Oktober 2024.
Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel kontrak 3 bulan ditutup di level US$18.133 per ton pada perdagangan Senin (19/1/2026).
Bahkan, pada pekan pertama Januari 2026, harga nikel sempat menyentuh US$18.694 per ton pada penutupan perdagangan 14 Januari.
Adapun, angka tersebut juga jauh lebih tinggi dibanding harga nikel yang sepanjang 2025 hanya bergerak di level US$14.000 hingga US$15.000 per ton.
Harga nikel melonjak usai pemerintah Indonesia mengumumkan rencana pemangkasan produksi pada 2026. Maklum, RI menyumbang sekitar 70% dari total produksi nikel global atau sekitar 3,8 juta metrik ton per tahun. Oleh karena itu, Indonesia memegang peran krusial dalam menentukan keseimbangan pasar.
Indonesia sebelumnya mengisyaratkan rencana untuk menekan produksi nikel guna memperbaiki keseimbangan pasokan dan permintaan global.
Meski demikian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum mengungkapkan kuota final produksi penambangan dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, pihaknya belum bisa membocorkan berapa volume pemangkasan yang akan dilakukan itu. Menurutnya, produksi nikel pada 2026 bakal disesuaikan dengan kebutuhan industri.
“Nikel akan kami sesuaikan dengan kebutuhan industri. Dan kami akan buat permintaan agar industri besar harus beli ore nikel dari pengusaha tambang, jangan ada monopoli. Kita ingin investor kuat, tapi pengusaha daerahnya juga kuat. Supaya ada kolaborasi,” kata Bahlil di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Pangkas Produksi Nikel ke Level 260 Juta Ton
Sementara itu, Dirjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut, pemerintah bakal memangkas produksi bijih nikel menjadi di level 250 juta hingga 260 juta ton pada tahun ini. Dia mengatakan, patokan produksi nikel tersebut ditetapkan guna mengendalikan harga nikel yang stagnan di level US$14.000 per ton.
“Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter, kemungkinan sekitar 250-260 [juta ton] tahun ini, kemungkinan sekitar segitu,” kata Tri kepada wartawan, Rabu (14/1/2025).
Di sisi lain, Tri juga menerangkan bahwa proses penerbitan RKAB akan berlangsung setelah perusahaan memenuhi persyaratan semua teknis, lingkungan dan lain sebagainya.
Namun, hingga saat ini, dia menyebut proses penerbitan RKAB masih dievaluasi. Terlebih, prosesnya dilakukan pada aplikasi baru yaitu MinerbaOne.
“Ada beberapa memang yang perusahaan itu masukkan angkanya nggak pas dan lain sebagainya, ya biasalah itu. Tapi jangan dianggap ini membuat gangguan terhadap RKAB, itu enggak pas. Semua baik-baik saja. Kan sampai Maret juga kita bisa pakai 25%,” tuturnya.
Sebelumnya, harga nikel juga mengalami penurunan akibat lesunya pasar. Hal ini juga menyebabkan penyerapan bijih nikel domestik belum optimal.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan, pemangkasan produksi yang dilakukan oleh sejumlah smelter telah menyebabkan stockpile nikel menumpuk.
Dewan Penasihat APNI Djoko Widajatno mengatakan, permasalahan tersebut dapat dilihat dari kuota produksi bijih nikel yang disetujui pemerintah pada 2025 mencapai 364 juta ton, sedangkan serapan masih di kisaran 120 juta ton.
“Namun, penyerapan oleh industri, khususnya smelter, lebih rendah dari kuota tersebut hingga pertengahan tahun ini,” kata Djoko kepada Bisnis, beberapa waktu lalu. Editor : Denis Riantiza Meilanova
