Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan bisnis batu bara metalurgi atau kokas (coking coal) seiring dengan tingginya kebutuhan dari sektor industri baja domestik dan prospek peningkatan permintaan dari pasar ekspor.
Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya kokas yang diperkirakan mencapai 2,7 miliar ton. Sumber daya tersebut menjadi salah satu modal untuk mengembangkan industri batu bara metalurgi, meskipun cadangannya relatif terbatas dan tersebar di sejumlah lokasi.
Meski memiliki potensi sumber daya, dia menyebut, skala produksi Indonesia masih relatif kecil dibandingkan dengan produsen utama dunia. Produksi kokas Indonesia pada 2025 diperkirakan sekitar 11 juta ton atau hanya sekitar 1% dari total produksi global.
Sebagai perbandingan, Australia memproduksi sekitar 172 juta ton dan Rusia sekitar 98 juta ton pada tahun yang sama. Sementara itu, produksi kokas global mencapai sekitar 1,1 miliar ton pada 2025, dengan Cina sebagai produsen terbesar dengan produksi sekitar 514 juta ton berdasarkan data Shanghai Metal Market (SMM).
“Jadi produksi Indonesia ini masih cenderung kecil dibandingkan dengan dunia,” katanya dalam Media Briefing ‘Batu Bara Metalurgi Indonesia: Peluang di Balik Industri Baja’ di Jakarta pada Kamis (15/10/2026).
Peluang pengembangan bisnis juga masih terbuka karena kebutuhan kokas domestik yang masih ditopang impor sebesar sekitar 17 juta ton, lebih besar dibandingkan produksi domestik yang berada di kisaran 11 juta ton pada 2025.
Irwandy menuturkan, kondisi tersebut menunjukkan produksi batu bara metalurgi nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan industri sehingga membuka ruang bagi pengembangan tambang dan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.
Dia menambahkan, produksi Indonesia saat ini masih didominasi oleh semi-soft coking coal (SSCC) dan pulverized coal injection (PCI), sedangkan produksi hard coking coal (HCC) masih relatif terbatas.
Padahal, pengembangan produk dengan kualitas yang sesuai kebutuhan industri baja menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing batu bara metalurgi Indonesia, baik di pasar domestik maupun ekspor.
Selain pasar domestik, India menjadi salah satu tujuan ekspor potensial bagi produsen kokas Indonesia. Negara tersebut diperkirakan terus meningkatkan kebutuhan batu bara metalurgi seiring dengan perkembangan industri bajanya.
Irwandy menyebut, impor kokas India diperkirakan bertambah sekitar 2 juta ton hingga 3 juta ton pada periode 2026–2027. Australia masih menjadi pemasok utama, sedangkan pasokan dari Rusia dan Mozambik diperkirakan turut meningkat.
Adapun, ekspor kokas Indonesia ke India tercatat sekitar 2,5 juta ton.
“Indonesia memiliki keunggulan geografis untuk memasok pasar Asia. Waktu pengiriman dari Indonesia menuju pelabuhan utama di Cina dan India disebut sekitar separuh waktu pengiriman dari Australia,” jelas Irwandy.
Keunggulan tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi produsen domestik dalam memperkuat penetrasi pasar ekspor. Namun, daya saing tetap ditentukan oleh kesesuaian kualitas produk, harga, serta kemampuan menjaga konsistensi pasokan. Editor : Denis Riantiza Meilanova
