SAHAM PT Bukit Asam Tbk (PTBA) meningkat 4,23% ke Rp 2.960 pada perdagangan 1 November 2024. Sebanyak 22,8 juta saham PTBA ditransaksikan, frekuensi 8.605 kali, dan nilai transaksi Rp 66,4 miliar.
Saham Bukit Asam diakumulasi kemarin. Broker CLSA Sekuritas Indonesia mencatatkan net buy saham PTBA Rp 13,9 miliar. Asing juga memborong saham emiten batu bara ini dengan net buy Rp 7,14 miliar.
Sementara itu, analis teknikal RHB Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengungkap bahwa saham Bukit Asam (PTBA) terlihat melakukan rebound dan breakout resistance garis MA (5,50) disertai volume.
“Selama di atas garis MA50 maka berpeluang untuk kembali rebound dan menguji resistance garis MA20 sekaligus resistance bearish channel-nya,” sebut Muhammad Wafi dalam ulasannya, Jumat (1/11/2024) pagi.
Ia merekomendasikan buy area saham Bukit Asam (PTBA) di sekitar 2.920 dengan target jual di 3.050 hingga 3.150. “Cut loss di 2.830,” pungkasnya.
Laba
Bukit Asam (PTBA) mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 3,23 triliiun pada periode Januari-September 2024. Angka laba bersih emiten berkode saham PTBA itu melemah dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang berjumlah Rp 3,77 triliun.
Tapi untuk kuartal III-2024 saja, Bukit Asam membukukan laba bersih Rp 1,19 triliun. Relatif stabil dibandingkan kuartal II-2024 di posisi Rp 1,24 triliun.
Laba per saham Bukit Asam sebesar Rp 281 per 30 September 2024. Lebih kecil dari Rp 329 pada periode yang sama tahun 2023.
Sebenarnya Bukit Asam (PTBA) mencatatkan pendapatan Rp 30,65 triliun dalam 9 bulan 2024. Lebih besar dari Rp 27,73 triliun pada per akhir kuartal III-2023.
Tapi beban pokok pendapatan juga membengkak menjadi Rp 25,04 triliun di akhir kuartal III-2024. Ketimbang Rp 21,81 triliun pada 9 bulan 2023.
Laba bruto akhirnya susut ke posisi Rp 5,6 triliun dalam 9 bulan 2024. Dibandingkan Rp 5,92 triliun pada Januari-September 2023.
Per 30 September 2024, jumlah aset Bukit Asam Rp 40,15 triliun, liabilitas Rp 19,81 triliun, dan ekuitas Rp 20,33 triliun. Editor: Theresa Sandra Desfika
Sumber: investor.id, 1 November 2024
