KALANGAN ahli pertambangan menilai pemerintah perlu melakukan penyesuaian terhadap relaksasi ekspor konsentrat tembaga akibat peristiwa kebakaran yang terjadi pada fasilitas pemisahan gas bersih atau gas cleaning plant di smelter milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik.
Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan hal itu dilakukan agar konsentrat yang tidak bisa diserap di dalam negeri, bisa diekspor. Kebijakan ini bisa mencegah terhambatnya produksi tambang.
Menurut dia, kebakaran tersebut bakal berdampak terhadap rencana produksi smelter Freeport secara keseluruhan.
“Sebab saat ini sedang dilakukan testing, commissioning serta ramp-up produksi. Sehingga tentu akan menghambat jadwal produksi secara keseluruhan seperti yang ditargetkan,” ujar Rizal kepada Bloomberg Technoz, Kamis (17/10/2024).
Dia juga mengatakan PTFI harus melakukan investigasi dan melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan agar insiden ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Dikonfirmasi secara terpisah, VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia Katri Krisnati mengatakan saat ini perseroan masih melakukan investigasi dan asesmen secara komprehensif.
Investigasi dan asesmen itu dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak termasuk kontraktor dan subkontraktor serta manufaktur peralatan atau equipment manufacturer dari berbagai negara mengingat ini adalah proyek yang sangat besar.
“Langkah-langkah berikutnya baru dapat ditentukan kemudian,” ujar dia.
Sebelum peristiwa kebakaran, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan jadwal produksi penuh smelter adalah Januari 2025, mundur dari target awal pada Desember 2024.
Sementara, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi pemerintah kemungkinan bakal membuka peluang untuk kembali memberikan relaksasi ekspor konsentrat tembaga usai Desember 2024 kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
Bahlil mengatakan larangan ekspor konsentrat bakal kembali diundur 1-2 bulan dari tenggat yang ditargetkan sebelumnya, yaitu pada Desember 2024.
Hal ini dilakukan karena pabrik pemurnian atau smelter katoda tembaga yang dibangun oleh kedua perseroan belum dapat berproduksi 100% akhir tahun ini. Walhasil, keran ekspor konsentrat tembaga bakal diberikan sebesar volume yang belum mampu diserap oleh smelter.
“Freeport peak-nya diagendakan Desember. Kalau katakanlah pabriknya belum bisa cover 100% karena ada hal yang bisa dipertanggungjawabkan, kita mungkin ulur [larangan ekspor konsentrat tembaga], tetapi paling tidak 1-2 bulan. Kemungkinan ke AMNT juga,” ujar Bahlil saat ditemui di Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (13/10/2024). (dov/frg)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 17 Oktober 2024
