PT AMMAN Mineral Internasional Tbk (AMMN) memastikan krisis industri smelter katoda tembaga di tingkat global tidak akan berdampak pada bisnis pengolahan dan pemurnian yang dijalankan perseroan di dalam negeri.
Vice President of Corporate Communications and Investor Relations Amman Mineral Internasional Kartika Octaviana mengatakan rencana produksi katoda tembaga perseroan tidak akan terimbas dinamika global tersebut.
“Dinamika global ini tidak memengaruhi Amman, karena konsentrat [tembaga] yang kami murnikan di smelter [katoda] kami berasal dari tambang kami sendiri, sehingga hal ini tidak berpengaruh pada strategi produksi Amman,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (24/12/2024).
Sesuai laporan kinerja Amman sepanjang kuartal I—III tahun ini, produksi katoda pertama dari smelter Amman direncanakan mulai kuartal I-2025. Smelter dengan nilai investasi Rp21 triliun itu memiliki total kapasitas input konsentrat tembaga sebanyak 900.000 ton.
Dengan demikian, produk dari smelter yang dibangun di Kabupaten Sumbawa barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu akan menghasilkan katoda tembaga mencapai 220.000 ton, 18 ton emas, 55 ton perak dan asam sulfat mencapai 850.000 ton asam sulfat by product.
“Kami telah mempersiapkan strategi yang matang dan terencana dengan baik untuk memastikan keberlanjutan operasional kami di tengah berbagai dinamika global,” tegas Kartika.
Dilaporkan Bloomberg sebelumnya, smelter tembaga di China dan banyak negara lainnya terus memperingatkan adanya ancaman penyetopan operasi, atau bahkan gulung tikar, jika biaya atau fee untuk pemrosesan logam industri tersebut terus turun terlalu tajam.
Krisis smelter katoda tembaga akibat anjloknya fee pemrosesan dipicu oleh terlalu banyaknya investasi smelter baru di China dan berbagai negara lain, yang membuat pabrik-pabrik pengolahan tembaga di dunia bersaing ketat dalam menemukan bijih yang cukup untuk mengisi tungku mereka.
Hal itu berarti penambang dapat memperoleh persyaratan pasokan konsentrat yang makin menarik. Di sisi lain, produksi bijih tembaga dunia tengah seret akibat masalah penutupan beberapa tambang di sejumlah negara.
Eksekutif senior industri pertambangan dan smelter yang menghadiri London Metal Exchange (LME) Week tahunan pada Oktober mengatakan kemungkinan biaya pemrosesan akan turun ke tingkat di mana pengusaha smelter akan kesulitan untuk menghasilkan laba.
Gelombang penutupan pabrik peleburan atau smelter dapat mengubah peta pasokan tembaga olahan global di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dominasi China atas mineral-mineral penting.
Smelter fees for copper processing continue to fall./doc. Bloomberg
Untuk diketahui, perusahaan smelter biasanya memperoleh sebagian besar keuntungan mereka dari biaya atau fee pemrosesan yang dipotong dari biaya konsentrat, bijih yang sebagian diproses yang mereka beli dari para penambang.
Industri menyetujui patokan untuk biaya perawatan dan pemurnian (TC/RC) pada kuartal keempat setiap tahun. Biaya tersebut digunakan sebagai referensi untuk kontrak pasokan jangka panjang, sementara penjualan ad hoc lainnya sepanjang tahun diberi harga berdasarkan kondisi pada saat itu.
Peningkatan tekanan pada pasokan bijih tembaga telah menyebabkan kesenjangan yang lebar antara patokan tahun lalu —yang ditetapkan sebesar US$80 per ton bijih dan 8 sen per pon logam yang terkandung— dan ketentuan yang disetujui dalam transaksi spot.
Situasinya telah berkembang sedemikian parah, sehingga biayanya berubah menjadi negatif; pedagang dan pengusaha smelter telah membayar lebih banyak untuk bijih tembaga daripada tembaga yang terkandung di dalamnya yang akan diperoleh setelah diproses, situasi yang sangat tidak biasa.
Dalam jajak pendapat yang melibatkan lebih dari dua lusin penambang, pedagang, dan pelaku industri smelter; responden yang memberikan perkiraan mengatakan bahwa patokan tersebut kemungkinan akan disepakati antara US$20 dan US$40 per ton dan 2 sen hingga 4 sen per pon.
— Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi (wdh)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 24 Desember 2024
