Produksi tembaga Cili mengalami penurunan secara tahunan pada Juli 2026, sebab produksi di beberapa lokasi operasi utama di negara penghasil tembaga terbesar di dunia tersebut merosot tajam.
Berdasarkan data dari Komisi Tembaga Cili (Cochilco), mengutip Shanghai Metals Market (SMM), Senin (14/9/2026), produksi tembaga Cili anjlok 9,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026.
Produksi tembaga di perusahaan milik negara, Codelco, turun 5% secara tahunan menjadi 112.800 ton pada Juli. Data ini memperpanjang periode penurunan produksi bagi perusahaan di tengah tantangan operasional di tambang-tambang utamanya.
Produksi di tambang Escondida —tambang tembaga terbesar di dunia yang dikelola oleh BHP— turun lebih tajam, yakni sebesar 22,1% secara tahunan menjadi 89.400 ton. Sebaliknya, produksi di Collahuasi, yang dimiliki bersama oleh Anglo American dan Glencore, meningkat 12,3% secara tahunan menjadi 38.400 ton.
Secara terpisah, Institut Statistik Nasional Cili (INE) melaporkan produksi tembaga tambang tercatat sebesar 403.424 ton pada Juli.
Indeks Produksi Pertambangan negara tersebut turun 7,2% secara tahunan, sementara aktivitas pertambangan logam menurun 10,7%, terutama disebabkan oleh rendahnya ekstraksi dan pengolahan tembaga.
SMM juga menyebutkan cuaca buruk di wilayah utara Cili dan kegiatan pemeliharaan di lokasi operasi utama sebagai faktor-faktor yang membebani angka produksi Juli.
Saat ini, Cochilco memproyeksikan produksi tembaga Cili mencapai sekitar 5,27 juta ton pada 2026 —turun 2,6% secara tahunan— sebelum kemudian pulih sebesar 5,2% menjadi sekitar 5,55 juta ton pada 2027.
Sebelumnya, Bloomberg News melaporkan ekspor tembaga Cili merosot ke level terendah dalam lebih dari setahun pada Agustus meskipun harga sedang melonjak. Pasalnya, produsen terbesar dunia ini harus menghadapi badai musim dingin yang parah dan berbagai kendala operasional tambang.
Nilai ekspor tembaga tercatat sebesar US$4,62 miliar pada bulan lalu, turun 14% dari Juli dan 3,2% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data bank sentral yang dirilis pada Senin waktu setempat.
Angka ini merupakan capaian bulanan terendah sejak Juli 2025. Penurunan ini terjadi justru saat harga tembaga menguat, di mana harga rata-rata pada Agustus lebih tinggi lebih dari 40% dibandingkan tahun sebelumnya.
Industri pertambangan Cili menghadapi berbagai kendala operasional tahun ini; badai yang disertai hujan lebat, salju, dan angin kencang mengganggu aktivitas tambang selama Juli dan Agustus, serta kondisi laut yang buruk sesekali membatasi aktivitas di pelabuhan.

Kendala produksi di negara yang menyumbang seperempat dari total produksi tambang global ini turut menopang harga tembaga, sehingga memperketat pasokan global yang sebelumnya sudah tertekan akibat gangguan di wilayah lain. (ros)
