Tenggat Mepet, Perpanjangan Izin Ekspor Freeport Masih Tak Jelas

MEMASUKI pertengahan Desember 2024, pemerintah tidak kunjung memberikan lampu hijau terhadap perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga bagi PT Freeport Indonesia (PTFI), selagi perseroan tidak dapat memproduksi katoda usai smelter-nya terbakar pada 14 Oktober.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengaku sampai saat ini belum mendapatkan update informasi apapun terkait dengan ekstensi izin ekspor konsentrat tembaga, yang masa berlakunya habis pada 31 Desember 2024.

“Saya belum dapat update terkait dengan itu dan belum ada pembahasan apapun,” kata Tri saat ditemui, dikutip Rabu (11/12/2024).

Tri menegaskan hingga kini belum ada aturan terbaru soal izin ekspor konsentrat. Dengan demikian, izin ekspor konsentrat tembaga dan lumpur anoda Freeport sejauh ini masih menggunakan skema eksisting alias hanya berlaku hingga Desember 2024. 

Dia juga menyebut, pemerintah belum membahas perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga hingga 2025, meski kabarnya smelter katoda tembaga Freeport di Manyar, Gresik baru bisa beroperasi normal sekitar Agustus tahun depan.

“Belum [bahas 2025],” ucap Tri. 

Secara terpisah, VP Government Relations Freeport Harry Pancasakti menyebut hingga saat ini perseroan masih berdiskusi dengan pemerintah terkait dengan kelanjutan izin ekspor konsentrat tembaga yang akan segera berakhir bulan ini.

“Kita sedang berdiskusi dengan pemerintah dalam hal ini terkait itu, masih on progress,” ucap Harry.

Presiden Direktur Freeport Tony Wenas tidak menampik tambahan kuota dan perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga sangat dibutuhkan oleh Freeport lantaran smelter katoda tembaga perseroan di Manyar, Gresik, Jawa Timur masih belum dapat beroperasi normal usai terbakar dua bulan lalu.

“Karena smelter-nya terjadi kecelakaan, kebakaran, sehingga harus berhenti dahulu dan kami harus perbaiki dahulu itu. Maka, dibutuhkan fleksibilitas untuk bisa ekspor [konsentrat tembaga] pada 2025 sampai smelter-nya beroperasi kembali,” ujarnya ditemui di sela agenda Indonesia Mining Summit 2024, medio pekan lalu.

Tony memperkirakan smelter katoda tembaga di Manyar kemungkinan membutuhkan waktu perbaikan sekitar 6 bulan. Dengan kata lain, perpanjangan izin ekspor konsentrat masih dibutuhkan Freeport, setidaknya sampai dengan medio 2025.

“Iya, mudah-mudahan, sedang kita hitung terus,” ujarnya.

Tony sendiri terpantau telah menemui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto Kamis pekan lalu, guna mengajukan permohonan tambahan kuota ekspor konsentrat tembaga pada 2024.

Menurut Airlangga, permohonan tambahan kuota itu dilakukan Freeport Indonesia berkaitan dengan insiden kebakaran yang terjadi pada fasilitas pemurnian atau smelter katoda tembaga milik perseroan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur.

“Iya [bertemu Tony Wenas, membahas] perpanjangan kuota ekspor karena kemarin kan itunya [smelter] ada kecelakaan. Kita baru bicara Desember [2024],” ujar Airlangga saat ditemui di kantornya, Kamis (5/12/2024).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga mengonfirmasi PTFI memang mengajukan perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga yang akan berakhir pada Desember 2024.

“Sekarang di Freeport lagi ada trouble dikit di [fasilitas] asam sulfatnya kalau tidak salah ya, lagi mengajukan proposal untuk ekspor konsentrat,” kata Bahlil dalam sambutannya di acara Indonesia Mining Summit 2024.

Bahlil menyebut pemerintah akan berhati-hati dalam menangani permintaan PTFI terkait dengan izin ekspor konsentrat tembaga. Pemerintah perlu memastikan durasi dan kepastian penyelesaian masalah yang tengah dihadapi Freeport.

Bahlil juga mengingatkan agar kendala yang dihadapi Freeport tidak dijadikan alasan untuk terus mengekspor bahan mentah.

“Saya bilang tunggu dahulu, harus kita bicara jelas, berapa lama ini kerjanya? Jangan sampai ini dianggap nanti Freeport jadikan ini alasan untuk ekspor raw material terus karena untung daripada smelter tidak terlalu banyak,” ucap Bahlil. (mfd/wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 11 Desember 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top