PLT. Ketua Umum Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) Harwendro Adityo Dewanto mengatakan proyeksi Bank Dunia bahwa harga timah bakal menguat pada 2025 dan 2026 merupakan peluang yang baik untuk Indonesia sebagai pengekspor nomor satu dunia untuk komoditas mineral logam tersebut.
Harwendro menjelaskan selama ini komoditas timah dari Indonesia 100% diekspor, sehingga outlook harga dunia yang mengarah ke jalur bullish bisa berdampak baik terhadap ekonomi Indonesia.
“Sebagai pengekspor timah nomor 1 di dunia, Indonesia tentunya punya peluang sangat baik, apalagi kita 100% ekspor. Dampak ekonomi di Indonesia tentunya sangat baik, mudah-mudahan sektor yang lain juga membaik,” ujar Harwendro kepada Bloomberg Technoz, dikutip Senin (18/11/2024).
Mengutip data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bangka Belitung, rata-rata besaran ekspor timah Indonesia mencakup 20%-30% dari total kebutuhan timah dunia yang mencapai 200.000 ton per tahun.
Hingga Maret 2023, nilai ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai US$225,8 juta atau setara Rp3,5 triliun (asumsi kurs Rp15.679,35).
RKAB Aman
Sejalan dengan hal tersebut, Harwendro memastikan saat ini seluruh pengusaha timah di Indonesia sudah mendapatkan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2024 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Saat ini sih seperti ya semuanya sudah, total 16 perusahaan yang mendapatkan RKAB. Kurang lebih [volume produksinya] 58.000 ton,” ujarnya.
Harga timah selaku salah satu komoditas mineral logam andalan Indonesia diproyeksikan menguat secara anual, masing-masing 7% pada 2025 dan 6% pada 2026, menurut Bank Dunia atau World Bank (WB) dalam laporan Commodity Market Outlook terbarunya.
“Setelah kenaikan yang diharapkan sebesar 16% secara tahunan atau year on year [yoy] tahun ini, harga timah akan naik sebesar 7% pada 2025 dan 6% pada 2026, didukung oleh meningkatnya permintaan semikonduktor, panel fotovoltaik, dan teknologi transisi energi lainnya,” papar tim peneliti Bank Dunia dalam laporannya.
Dari sisi pasokan, ekspor timah Indonesia diperkirakan kembali stabil setelah penundaan perizinan menyebabkan penurunan tajam pada awal 2024.
Sebaliknya, operasi belum dimulai kembali di tambang-tambang utama di Myanmar —produsen timah terbesar ketiga— meskipun larangan penambangan 2023 telah dicabut sebagian pada awal 2024.
“Dengan sedikit proyek penambangan timah baru yang sedang dikembangkan, pasokan global kemungkinan akan tetap ketat pada tahun-tahun mendatang,” papar Bank Dunia.
Institusi keuangan global itu juga mencatat rerata harga timah berada di level US$26.218/ton pada Januari-Maret 2024. Harganya sempat menguat ke level US$32.262/ton pada April-Juni 2024 dan melemah ke level US$31.608/ton pada Juli-September 2024.
Adapun, harga timah turun tipis 2% secara quater to quarter (qtq) pada kuartal III-2024, menyusul lonjakan 23% pada kuartal sebelumnya karena gangguan pasokan dari produsen utama di Indonesia dan Myanmar. (dov/wdh)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 18 November 2024
