PT Timah Tbk. (TINS) menggelontorkan dana senilai Rp33,19 miliar untuk mendukung kegiatan eksplorasi perseroan sepanjang triwulan III/2026.
Division Head Corporate Secretary Timah Ruddy Nursalam mengungkapkan bahwa kegiatan eksplorasi perseroan pada periode Juli–September 2026 masih berfokus penuh pada komoditas timah.
“Jumlah biaya yang dikeluarkan total sebesar Rp33,2 miliar dengan perincian biaya operasional sebesar Rp21,6 miliar dan biaya investasi sebesar Rp11,6 miliar,” papar Ruddy dalam laporannya di keterbukaan informasi, Senin (12/10/2026).
Perseroan menegaskan bahwa eksplorasi di wilayah laut selama triwulan III/2026 hanya mencakup kegiatan survei batimetri di Perairan Bangka. Pada periode ini, emiten pertambangan pelat merah tersebut belum melakukan kegiatan pengeboran, baik untuk eksplorasi maupun pengeboran pandu di area lepas pantai.
Sementara itu, untuk eksplorasi darat, TINS secara intensif melakukan berbagai aktivitas operasional yang meliputi pemetaan, survei geofisika ground magnetic dan geolistrik, serta pengeboran eksplorasi timah primer dan aluvial di wilayah Pulau Bangka dan Belitung. Total kedalaman pengeboran darat yang berhasil direalisasikan mencapai 11.666 meter.
Memasuki triwulan IV/2026, perseroan berencana melakukan evaluasi menyeluruh sekaligus melanjutkan program kerja eksplorasi dari periode sebelumnya.
Untuk kegiatan pengeboran di laut, TINS mengalokasikan 1 unit Kapal Bor dan 4 unit Ponton Bor yang akan difokuskan di wilayah perairan Bangka dan Kundur.
Adapun untuk eksplorasi darat di Pulau Bangka dan Pulau Belitung, agenda kegiatan akan difokuskan pada pengeboran eksplorasi dan pengeboran pandu (primer & aluvial), lanjutan survei geofisika ground magnetic dan geolistrik di Belitung, serta survei topografi di kedua pulau tersebut.
Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro sebelumnya mengungkapkan produksi bijih timah di Belitung yang sebelumnya hanya sekitar 1.000-1.200 ton per tahun melonjak hampir 10 kali lipat menjadi sekitar 10.000 ton setelah kebocoran pertambangan berhasil ditekan melalui kegiatan penertiban.
Restu mengatakan peningkatan tersebut terjadi setelah kegiatan penertiban yang dilakukan bersama sejumlah satuan tugas membantu menekan kebocoran produksi timah di wilayah tersebut.
“Yang tadinya produksi rata-rata setahun hanya 1.000 atau 1.200 ton, itu bisa mencapai 10.000 ton. Jadi hampir 10 kali lipat karena kebocoran bisa tertutup,” katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9/2026).
Namun, lonjakan produksi tersebut tidak diimbangi dengan kuota rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang diperoleh PT Timah untuk wilayah Belitung.
Menurutnya, PT Timah semula hanya memperoleh alokasi RKAB sekitar 3.000 ton untuk 2026. Kuota tersebut kemudian habis hanya dalam waktu sekitar 2,5 bulan, sedangkan aktivitas penambangan masyarakat masih terus berlangsung. Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
