Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memangkas kuota produksi nikel dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, RKAB yang disetujui pada tahun ini antara 260 juta hingga 270 juta ton bijih nikel. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kuota produksi yang disetujui dalam RKAB 2025, yakni 379 juta ton.
“Nikel [RKAB] sudah kami umumkan hari ini, 260 [juta] sampai 270 [juta] lah, in between range-nya itu,” ucap Tri di Gedung Ditjen Minerba, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026).
Rencana pemangkasan produksi nikel telah diumumkan sejak akhir 2025. Adapun, angka produksi nikel tahun ini yang resmi disetujui memang tak jauh dari estimasi awal Kementerian ESDM.
Dalam kesempatan sebelumnya, Tri mengungkapkan, pemerintah bakal memangkas produksi bijih nikel menjadi di level 250 juta hingga 260 juta ton pada tahun ini.
“Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter, kemungkinan sekitar 250-260 [juta ton] tahun ini, kemungkinan sekitar segitu,” kata Tri kepada wartawan, Rabu (14/1/2025).
Langkah tersebut diambil oleh Kementerian ESDM guna mendongkrak harga nikel di pasar global yang sempat stagnan di level US$14.000 per ton pada 2025. Pengumuman rencana pemangkasan produksi nikel tersebut kemudian diikuti oleh bergeraknya harga nikel dunia ke level di atas US$18.000 per ton pada awal tahun ini. Level harga ini terakhir kali dicapai pada Oktober 2024.
Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel kontrak 3 bulan pada pekan pertama Januari 2026, sempat menyentuh US$18.694 per ton. Namun, harga nikel kini kembali turun ke US$17.349 per ton pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). Editor : Denis Riantiza Meilanova
