Penggunaan truk angkut listrik mulai masuk ke kegiatan produksi tambang, tetapi perluasan investasi teknologi tersebut masih bergantung pada kesiapan infrastruktur energi dan kemampuan perusahaan menyesuaikan sistem operasi.
Expert Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (PERTAABI) Sahala Sigalingging mengatakan sebanyak 18 truk angkut listrik telah digunakan di salah satu lokasi tambang di Kalimantan Timur dengan operasional sekitar 8 bulan hingga 12 bulan.
“Secara operasional, unit elektrik sudah bisa digunakan. Tantangan berikutnya adalah memastikan ekosistem komersial dan operasionalnya siap ketika penggunaannya diperluas,” ujar Sahala dalam keterangan resminya, Minggu (27/9/2026).
Menurut Sahala, keputusan memperluas penggunaan unit elektrik perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing tambang. Kapasitas kendaraan, dimensi unit, serta kondisi jalur angkut dapat memengaruhi produktivitas sehingga diperlukan penyesuaian sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam skala lebih besar.
Dari sisi operasional, praktisi operator tambang Agung Budi Prasetya mengatakan perusahaan perlu melakukan pengujian lapangan sebelum menentukan investasi lebih lanjut. Pengujian tersebut mencakup aspek keselamatan, produktivitas, konsumsi energi, pola pengisian, emisi, availability, hingga downtime.
“Uji coba dilakukan untuk memastikan unit elektrik mampu memenuhi kebutuhan operasi,” kata Agung.
Dia menjelaskan, elektrifikasi tidak hanya mengubah jenis kendaraan yang digunakan, tetapi juga membutuhkan penyesuaian pada sistem operasi tambang. Salah satu faktor utama adalah ketersediaan pasokan listrik yang harus mampu menopang kegiatan produksi.
Selain itu, waktu pengisian baterai perlu diselaraskan dengan pola kerja kendaraan agar tidak mengganggu produktivitas. Kesiapan teknisi dan pengemudi juga menjadi bagian dari kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum penggunaan unit elektrik diperluas.
Pendekatan investasi juga perlu disesuaikan berdasarkan jenis kendaraan. Unit elektrik berkapasitas besar lebih bergantung pada kesiapan infrastruktur, sementara kendaraan ringan lebih banyak dinilai berdasarkan tingkat pemanfaatannya.
Dari sisi keekonomian, perusahaan perlu menghitung total cost of ownership (TCO) sebelum menentukan skala investasi. Perhitungan tersebut mencakup biaya infrastruktur pengisian, pemeliharaan, produktivitas, hingga nilai sisa kendaraan.
Potensi penghematan bahan bakar kemudian perlu dibandingkan dengan seluruh biaya yang muncul selama masa penggunaan unit untuk melihat kelayakan investasi secara keseluruhan.
Sementara itu, praktisi kendaraan niaga dan logistik bertenaga listrik Richo Billy Wulur mengatakan ketahanan baterai dan dukungan purnajual turut menjadi faktor dalam membangun kepercayaan pengguna.
Salah satu skema yang dapat ditawarkan berupa garansi baterai hingga delapan tahun dengan ketentuan tertentu, termasuk penggantian apabila kapasitas baterai turun di bawah 75%.
Dengan demikian, adopsi truk listrik di tambang tidak hanya bergantung pada kemampuan unit bekerja di lapangan.
Kesiapan pasokan listrik, fasilitas pengisian, sumber daya manusia, serta struktur biaya operasi menjadi bagian dari ekosistem yang menentukan kelayakan investasi dan perluasan penggunaan unit elektrik. Editor : Hafiyyan
