Uji B50 di Sektor Tambang Tunjukkan Hasil Positif, Pemerintah Siapkan Implementasi Nasional

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan fondasi implementasi nasional biodiesel 50 persen (B50) setelah hasil uji pada sektor alat berat pertambangan menunjukkan kinerja positif. Temuan itu menjadi pijakan awal pemerintah dalam mematangkan arah kebijakan dan standar teknis pemanfaatan B50 secara luas.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan, uji B50 yang masih berlangsung sejauh ini memperlihatkan performa stabil, baik dari sisi teknis maupun operasional. Menurut dia, hasil itu penting karena sektor pertambangan memiliki karakter beban kerja tinggi dan menuntut ketahanan mesin yang konsisten.

“Secara umum, hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan performa yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin,” kata Eniya di Jakarta, dikutip Selasa (7/4/2026).

Ia menerangkan, pengujian B50 pada alat berat pertambangan dilakukan secara komprehensif. Cakupannya meliputi kualitas bahan bakar, kinerja mesin, ketahanan operasional, hingga stabilitas penyimpanan.

Hingga akhir Maret 2026, pengujian ketahanan dinamis telah menembus lebih dari 900 jam operasional tanpa indikasi gangguan mesin yang dipicu kualitas bahan bakar. Hasil itu memperkuat keyakinan pemerintah bahwa B50 memiliki kesiapan teknis untuk dilanjutkan ke tahap pengujian yang lebih luas.

Hasil pengujian di lapangan dari kalangan pelaku usaha juga menunjukkan arah yang sejalan. General Manager Plant PT Harmoni Panca Utama (HPU) Rochman Alamsjah menyampaikan, perusahaannya melakukan pembandingan langsung penggunaan B40 dan B50 pada unit alat berat.

“Saat ini kita sudah running kurang lebih 1000 jam dengan membandingkan performa dua unit HD785 Komatsu yang satu mengkonsumsi B40 dan yang lainnya mengkonsumsi B50,” kata Rochman.

Ia menjelaskan, hingga mendekati 1.000 jam operasi, performa mesin tidak menunjukkan persoalan berarti. Catatan yang masih dicermati berada pada konsumsi bahan bakar B50 yang tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan B40.

Dalam pengujian tersebut, konsumsi bahan bakar B50 tercatat naik sekitar 3,12 persen dibandingkan B40. Kenaikan itu masih dinilai dalam batas wajar dan belum memengaruhi produktivitas alat berat secara signifikan.

Dari sisi mutu bahan bakar, B50 juga disebut telah memenuhi spesifikasi teknis pengujian yang disepakati para pemangku kepentingan. Parameter yang dipenuhi mencakup kandungan air, stabilitas oksidasi, serta kandungan fatty acid methyl ester (FAME), yang menjadi indikator penting dalam penggunaan biodiesel untuk sektor nonotomotif.

“Pengembangan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” tutur Eniya.

B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri atas 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit, dan 50 persen solar. Skema ini dirancang untuk memperbesar pemanfaatan energi baru terbarukan sekaligus menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

Langkah menuju B50 juga menjadi kelanjutan dari implementasi B40 yang telah berjalan secara nasional sejak awal 2025. Kebijakan itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pionir dunia dalam pemanfaatan bahan bakar nabati skala besar, sekaligus mendorong penghematan devisa, penurunan emisi gas rumah kaca, dan peningkatan serapan sawit domestik.

Ke depan, pemerintah akan melanjutkan pengujian B50 ke sektor lain seperti transportasi, pembangkit listrik, kereta api, dan alat mesin pertanian. Rangkaian pengujian itu menjadi bagian penting untuk mematangkan implementasi B50 secara nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan implementasi biodiesel 50 persen atau B50 mulai diterapkan pada 1 Juli 2026. Kebijakan itu menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat diversifikasi energi di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

“Dan 1 Juli mulai diterapkan implementasi B50,” kata Bahlil di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Menteri ESDM menjelaskan, hasil uji pakai B50 sejauh ini menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah memandang pengembangan energi alternatif sebagai langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi konvensional, terutama di tengah dinamika situasi internasional.

Sumber:

– 07/04/2026

Temukan Informasi Terkini

PTBA Targetkan Produksi Batu Bara Bisa Tembus 100 Juta Ton di 2030

baca selengkapnya

Laba DEWA Melejit, Bisa Terulang pada 2026? Ini Pendorongnya

baca selengkapnya

Ditekan Harga Nikel, Vale (INCO) Tetap Bukukan Kinerja Solid Sepanjang 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top