PT VALE Indonesia Tbk (INCO) memproyeksikan nikel hijau atau green nickel bakal membutuhkan waktu agar transaksinya di pasar terbuka (open market) seperti London Metal Exchange (LME) bisa likuid secara volume.
Namun, Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Bernardus Irmanto menggarisbawahi negosiasi penjualan nikel hijau tetap bisa dilakukan secara business to business (B2B).
“Misalkan Vale nanti untuk proyek baru, kemudian; ‘Saya kan sudah berusaha produksi nikel secara green’, kemudian bisa dinegosiasikan; ‘Kamu kasih [harga] premium lah’, itu bisa. Namun, kalau mengikuti open market, harus menunggu waktu sampai volume benar-benar likuid,” ujar Bernardus saat ditemui di Jakarta Pusat, dikutip Rabu (9/10/2024).
Bernardus menggarisbawahi sudah banyak usulan dari penambang ihwal pembentukan indeks khusus untuk nikel hijau di LME. Namun, LME menilai bahwa volume nikel hijau yang akan masuk ke indeks tersebut tidak likuid. Walhasil, LME menawarkan platform lain, Metalshub, untuk bertransaksi nikel hijau.
Dengan demikian, kata Bernardus, Metalshub akan listing nikel-nikel yang masuk kategori nikel hijau, agar penambang yang menawarkan nikel hijau bisa masuk ke platform tersebut.
“Namun saya cek terakhir pada Agustus, volume tidak signifikan, baik yang ditawarkan atau yang membeli. Bahkan, [nikel hijau] yang ditawarkan pun belum tentu semuanya terserap. Jadi volume wise memang belum likuid,” ujarnya.
Meskipun begitu, Bernardus kembali menggarisbawahi bukan berarti nikel hijau tidak akan tersedia, melainkan bisa ditawarkan atau dinegosiasikan secara B2B.
“Kalau Vale sebetulnya kalau mau negosiasi, nikel kan dipakai untuk baterai mobil [listrik]. Harganya jadi mahal karena ada nikel hijau, masa kita sebagai memproduksi nikel tidak ada kecipratan value? Maka seharusnya bisa muncul negosiasi. Bukan hanya Vale, semua pelaku industri penginnya itu,” ujarnya.
Sekadar catatan, INCO memang sudah menggunakan energi hijau berupa tiga pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas total 365 megawatt.
Pengurangan emisi juga dilanjutkan di proyek pengembangan Morowali, di mana smelter akan beralih ke energi bersih melalui pasokan listrik dari gas alam.
Dalam catatan atau notice yang diterbitkan awal tahun, LME memang menegaskan pasar ‘nikel hijau’ saat ini masih terlalu kecil untuk bisa menggaransi kontrak berjangka mereka sendiri.
“LME yakin pasar ‘nikel hijau’ belum cukup besar untuk mendukung semangat memperdagangkan kontrak berjangka hijau khusus. Pelaku pasar telah menyatakan kekhawatirannya akan hal itu dan masih terdapat perdebatan pasar yang signifikan mengenai bagaimana mendefinisikan ‘hijau’,” papar bursa logam barometer dunia itu, dikutip Kamis (7/3/2024).
Bagaimanapun, LME tidak menutup telinga terhadap kencangnya desakan dari berbagai korporasi tambang agar LME memperdagangkan subsegmen khusus bagi logam —khususnya nikel— yang diproduksi dengan standar ramah lingkungan. (dov/wdh)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 9 Oktober 2024
