Vale (INCO) Andalkan HPAL Dorong Hilirisasi Nikel Limonit Menuju Industri Baterai

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mengandalkan teknologi high pressure acid leach (HPAL) untuk memperdalam proses hilirisasi nikel. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan bijih nikel limonit yang selanjutnya diolah menjadi bahan baku untuk industri baterai.

HPAL menjadi fasilitas pengolahan pada tahap midstream yang mengolah bijih limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP). Produk antara tersebut selanjutnya dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan baku untuk rantai industri baterai.

Head of Strategy and Business Development Vale Indonesia Mateus Sigit Hari Sulistya mengatakan, HPAL menjadi bagian penting dalam membangun rantai nilai nikel yang terintegrasi, mulai dari penambangan hingga pengolahan dan pengembangan produk turunan.

“HPAL merupakan sesuatu yang sangat penting dalam fase midstream karena menjadi pondasi awal sebelum kita masuk ke further downstreaming,” ujarnya dalam agenda Sosialisasi MediaMIND 2026 di Jakarta pada Senin (14/9/2026) lalu.

Dalam rantai hilirisasi tersebut, MHP belum menjadi produk akhir untuk industri baterai. Produk ini masih harus melalui proses refining dan downstreaming untuk menghasilkan precursor cathode active material (pCAM), kemudian cathode active material (CAM), sebelum masuk ke tahap produksi material baterai.

Keberadaan HPAL membuka jalur pemanfaatan bijih limonit yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi yang lebih terbatas. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan mengembangkan sumber pendapatan baru dari material yang sebelumnya tidak menjadi bagian utama dalam pengolahan nikel.

Vale sebelumnya mengandalkan pengolahan bijih saprolit di Sorowako untuk menghasilkan nikel matte melalui teknologi pirometalurgi. Kini, perseroan mulai mengembangkan pemanfaatan limonit melalui fasilitas HPAL bersama sejumlah mitra.

“Dengan adanya teknologi HPAL, kini terbuka jalur baru untuk meng-unlock value dari limonite ore,” tuturnya.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari perubahan strategi operasi Vale dari satu basis operasi di Sorowako menuju platform pertumbuhan multiwilayah. Perseroan memiliki tiga konsesi, yakni Sorowako di Sulawesi Selatan, Pomalaa di Sulawesi Tenggara, serta Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah.

Di Bahodopi, Vale mengembangkan tambang sekaligus HPAL di Sambalagi, Morowali melalui kerja sama dengan mitra. Bijih limonit yang berasal dari tambang Bahodopi akan dipasok ke fasilitas tersebut untuk diolah menjadi MHP, dengan kapasitas HPAL sekitar 60.000–90.000 ton.

Sementara itu, di Pomalaa, perseroan akan mengintegrasikan penambangan bijih saprolit dan limonit. Untuk limonit, Vale bersama mitra mengembangkan fasilitas HPAL dengan kapasitas sekitar 120.000 ton.

Di Sorowako, operasi existing Vale masih menghasilkan nikel matte dari bijih saprolit melalui proses pirometalurgi. Untuk bijih limonit, perseroan juga mengembangkan fasilitas HPAL bersama mitra sebagai bagian dari pengembangan operasi baru.

Pengembangan HPAL tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi nikel tidak hanya berkaitan dengan peningkatan volume produksi tambang, tetapi juga bagaimana mengolah sumber daya menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, HPAL menjadi penghubung antara sumber daya limonit dan industri pengolahan lanjutan.

Dari sisi teknologi, HPAL telah mengalami perkembangan dalam beberapa generasi. Menurut Vale, pengembangan teknologi tersebut mengalami kemajuan signifikan setelah keberhasilan Project Ramu di Papua Nugini, kemudian diikuti berbagai implementasi dan penyempurnaan teknologi, termasuk oleh mitra teknologi dari Cina.

“Investasinya jauh lebih rendah dan improvement yang dilakukan juga sangat tinggi. Karena itu, kami mendorong pengembangan HPAL di Indonesia,” jelasnya.

Meski demikian, HPAL merupakan proyek yang membutuhkan modal besar dan memiliki kompleksitas teknis tinggi. Karena itu, Vale memilih model kemitraan dalam pengembangan sejumlah fasilitas HPAL, dengan mitra membawa teknologi dan kemampuan teknis yang melengkapi sumber daya serta pasokan bijih dari perseroan.

Selain aspek ekonomi, keberlanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan HPAL. Vale menyebut emisi dari HPAL lebih rendah dibandingkan sistem pirometalurgi. Namun, teknologi tersebut juga menghasilkan tailing atau residu dalam jumlah signifikan sehingga pengelolaannya menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan.

Vale menilai pengembangan HPAL perlu dilihat dalam perspektif jangka panjang, bukan hanya berdasarkan kondisi pasar saat ini. Daya saing teknologi, ketersediaan bijih, skala produksi, tingkat recovery, serta efisiensi operasi menjadi sejumlah faktor yang menentukan keberlanjutan fasilitas tersebut.

“Dalam jangka panjang, kami melihat HPAL sebagai salah satu kunci. Tentunya kami juga harus memperhatikan berbagai aspek, mulai dari ketersediaan ore, skala, recovery, hingga operating efficiency,” jelasnya.

Terlebih, dengan berkembangnya industri baterai dan rantai pasok kendaraan listrik di dalam negeri, HPAL dinilai berpotensi menjadi salah satu fondasi penting dalam memperluas hilirisasi nikel Indonesia. Pengolahan limonit menjadi MHP juga membuka ruang bagi pengembangan tahapan hilir berikutnya, sehingga nilai tambah nikel dapat diperpanjang di dalam negeri. Editor : Denis Riantiza Meilanova

Sumber:

– 21/09/2026

Temukan Informasi Terkini

Bahlil sebut PNBP minerba naik meski pemerintah pangkas kuota produksi

baca selengkapnya

Laba Amman (AMMN) Tembus Rp8,89 Triliun Semester I/2026, Ditopang Penjualan Emas

baca selengkapnya

Intip Outlook Kinerja Amman Mineral (AMMN) Usai Sukses Cetak Laba di Semester I-2026

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top