Emiten kontraktor batu bara, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak usaha utama PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), melatih ribuan siswa SMK agar dapat terserap sebagai tenaga kerja terampil di industri pertambangan.
Direktur Utama BUMA, Dian Sofia Andyasuri mengatakan, pihaknya turut membekali ribuan siswa dengan keterampilan teknis, pengalaman praktik industri, hingga sertifikasi kompetensi untuk memperkecil kesenjangan antara kemampuan lulusan sekolah dan kebutuhan dunia kerja.
“Kesiapan memasuki dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, kerja sama, serta pemahaman terhadap standar profesional industri,” ujar Dian dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2026).
Dia mengatakan, pihaknya memahami kesiapan kerja tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga disiplin, kemampuan beradaptasi, bekerja sama, serta pemahaman terhadap standar kerja profesional.
“Kami ingin membawa pengetahuan dan pengalaman tersebut lebih dekat kepada siswa sejak masih di bangku SMK, sehingga apa yang mereka pelajari di sekolah semakin relevan dengan kompetensi dan standar yang benar-benar dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja,” ujar Dian.
Pada tahun ajaran 2025/2026, BUMA mengajak 200 siswa dari 10 SMK yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan untuk dilatih sebagai mekanik tambang lewat Program BUMA School.
Seluruh peserta berhasil menyelesaikan rangkaian program dan memperoleh sertifikasi Basic Mechanic Course. Dari jumlah tersebut, sebanyak 170 siswa juga mendapatkan sertifikasi kompetensi mekanik dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Sementara itu, 20 siswa memperoleh kesempatan menjalani praktik kerja industri (PRAKERIN) di BUMA Rebuild Center, Balikpapan.
Dian mengatakan, program ini dirancang untuk membangun kompetensi teknis sekaligus kesiapan kerja siswa secara menyeluruh.
“Tahapannya meliputi proses seleksi, pembelajaran kurikulum teknis, pengembangan soft skills, pembinaan mental dan fisik (Bintalsik), pemanfaatan Learning Management System (LMS), praktik kerja industri, hingga sertifikasi kompetensi,” ujar dia.
Dian menilai pendekatan tersebut penting untuk memastikan lulusan SMK memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan pertambangan.
Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga memahami standar keselamatan, kedisiplinan, prosedur kerja, dan budaya industri.
Program BUMA School telah dijalankan sejak 2018, dan telah menjangkau 2.236 siswa.
Program tersebut melibatkan dan meningkatkan kapasitas 32 guru, serta bekerja sama dengan 16 SMK di tujuh provinsi.
Dampak program juga terlihat dari penyerapan tenaga kerja.
Hingga saat ini, lebih dari 400 alumni BUMA School telah bekerja di BUMA maupun perusahaan lainnya.
Dalam pelaksanaannya, BUMA bertindak sebagai pemilik program, sedangkan PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), anak usaha BUMA, berperan sebagai implementor yang mendukung proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi peserta.
Untuk memperluas jangkauan program, BUMA juga menggandeng empat SMK untuk penyelenggaraan BUMA School tahun ajaran 2026/2027.
Keempat sekolah tersebut yakni SMK Negeri 1 Balikpapan, SMK Negeri 1 Singosari, SMK Swasta Warga Solo, dan SMK Swasta Tabalong.
Dian mengatakan, pihaknya ingin memperluas akses pendidikan vokasi yang terhubung dengan kebutuhan industri sehingga semakin banyak lulusan SMK memiliki kesempatan memasuki dunia kerja.
“Dengan demikian, akan semakin banyak anak muda Indonesia yang tidak hanya lulus dengan membawa ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi, karakter, dan kesiapan untuk membangun karier mereka,” tegas Dian.
