Adu Siasat Emiten Emas Semester II/2026, Saham Mana Paling Berkilau?

Kinerja volume penjualan emiten tambang emas bergerak bervariasi sepanjang semester I/2026. Sejumlah emiten pun menyiapkan langkah strategis untuk menopang kinerja pada paruh kedua.

Dari jajaran BUMN, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) membukukan penjualan emas sebesar 581.286 ounce atau 18.080 kg pada semester I/2026. Jumlah ini turun 38,21% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, ANTM mencatat peningkatan produksi emas sebesar 232 kg pada kuartal II/2026 atau naik 12% year on year (YoY). Secara kumulatif, total produksi emas perseroan menyentuh 433 kg pada semester I/2026.

Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) membukukan total penjualan senilai US$775,6 juta pada kuartal II/2026. Dari angka ini, emas menyumbang pendapatan US$165 juta dari total penjualan 36.574 ounce emas.

Tambang Emas Tujuh Bukit menjadi penopang utama MDKA dengan torehan penjualan 30.135 ounce emas. Adapun, Tambang Emas Pani mulai menunjukkan taji pada fase ramp-up dengan lonjakan produksi hingga 15.594 ounce pada kuartal II/2026, melesat dari kuartal sebelumnya yang sebesar 1.818 ounce.

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold Albert Saputro mengatakan bahwa tambang emas Tujuh Bukit tetap menjadi basis operasi yang kuat, sementara tambang emas Pani bergerak menuju produksi berkapasitas lebih tinggi.

“Ke depan, kami tetap fokus pada eksekusi yang disiplin, berlanjutnya ramp-up Pani serta pengembangan TB [Tujuh Bukit] melalui tahap feasibility study,” ujar Albert dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (4/8/2026).

Sementara itu, tekanan operasional menggerus kinerja PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) pada semester I/2026. Penjualan emas BRMS turun 45,91% YoY menjadi 21.091 ounce, yang akhirnya menyeret pendapatan perseroan turun menjadi US$95,79 juta dan laba bersih menjadi US$13,28 juta.

Kinerja perseroan setidaknya tertekan oleh tiga faktor utama, yakni operasi pushback di lokasi tambang River Reef di Poboya (Palu), kondisi penawaran berlebih di pasar domestik yang menahan volume penjualan.

Di samping itu, rerata harga jual emas perseroan juga turun dari US$4.512 per ounce pada kuartal I/2026 menjadi US$4.138 per ounce pada kuartal II/2026.

Namun, BRMS telah memitigasi risiko ini dengan menyelesaikan finalisasi pushback dan mulai menambang di bukaan baru sejak semester II/2026.

Direktur Utama & CEO BRMS Agus Projosasmito optimistis kinerja perseroan membaik pada paruh kedua seiring peningkatan kapasitas pabrik emas dari 500 menjadi 2.000 ton bijih per hari yang ditargetkan rampung akhir tahun ini.

“Selain itu, kami berharap untuk mulai menambang bijih-bijih emas berkadar tinggi yakni 3,5 – 4,9 g/t dari area tambang bawah tanah kami pada semester kedua tahun depan,” ujar Agus melalui keterangan resmi.

PROSPEK

Adapun, prospek emiten tambang emas diperkirakan tetap solid. Hal tersebut didorong oleh akselerasi ramp-up produksi oleh sejumlah emiten, sekaligus ekspansi kapasitas tambang baru pada paruh kedua tahun ini.

Analis PT Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta menjelaskan MDKA diproyeksikan membukukan kenaikan EBITDA sebesar 39% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ) menjadi US$339 juta pada kuartal II/2026.

Laju pertumbuhan tersebut ditopang oleh heap-leach ramp-up Tambang Emas Pani yang melonjak 758% secara kuartalan menjadi 15.594 ounce emas.

“Kami mempertahankan rekomendasi beli saham MDKA dengan target harga Rp4.500 per saham yang didukung oleh solidnya kinerja pendapatan sepanjang tahun buku 2026,” ujar Ryan dalam risetnya, Selasa (4/8/2026).

Namun, dia mencermati sejumlah risiko penekan kinerja MDKA yang perlu diwaspadai oleh investor. Hal tersebut antara lain, risiko eksekusi proyek Tambang Emas Pani, serta arah kebijakan moneter yang cenderung ketat dari Bank Sentral AS The Fed sehingga berisiko menahan laju harga emas global.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey menilai tekanan kinerja BRMS telah melewati titik terendahnya. Kondisi ini terjadi setelah tuntasnya operasi pushback di lokasi tambang River Reef pada Juli 2026.

Andhika menjelaskan bahwa pemulihan kinerja BRMS pada semester II/2026 akan ditopang oleh normalisasi kadar bijih emas serta kepastian penyerapan (offtake) emas hingga 120 kg per bulan oleh ANTM hingga Juni 2028.

Dalam jangka menengah, ekspansi pabrik carbon-in-leach (CIL) berkapasitas 2.000 ton bijih per hari dan penambangan bawah tanah kadar tinggi (3,5-4,9 g/t) pada semester II/2027 menjadi motor pertumbuhan perseroan.

BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi beli untuk BRMS, tetapi menurunkan target harga menjadi Rp700 dari sebelumnya Rp1.100. Penurunan ini menyusul penyesuaian proyeksi volume produksi dan harga jual emas.

“Kendati demikian, pelemahan harga saham belakangan ini dinilai telah merespons risiko tersebut secara penuh,” pungkas Andhika.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham MDKA mencatat kenaikan tertinggi di kelompok emiten emas dengan penguatan 27,63% secara year to date (YtD) menuju level Rp2.910 hingga penutupan perdagangan Selasa (4/8).

Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) juga menguat 23,42% YtD. Sebaliknya, saham ANTM melemah 8,25% YtD dan BRMS terkoreksi 47,27% YtD.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman

Sumber:

– 05/08/2026

Temukan Informasi Terkini

Freeport Resmi Ajukan Perpanjangan IUPK untuk Operasi Usai 2041

baca selengkapnya

AlamTri Resources (ADRO) Optimis Kinerja Bisnis Tetap Tumbuh hingga Akhir 2026

baca selengkapnya

Merdeka Copper Gold (MDKA) Siapkan Dana Rp 1,5 Triliun Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top