PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam mengklaim perjanjian jual–beli emas dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) masih berlaku hingga saat ini, tetapi realiasi pembeliannya akan mempertimbangan berbagai aspek—termasuk harga keekonomian.
Sekretaris Perusahaan Antam Wisnu Danandi Haryanto menyatakan kerja sama jual–beli emas dengan Freeport tetap mengacu pada kesepakatan dan mekanisme komersial kedua perusahaan.
Kendati begitu, realisasi pembelian emas dilakukan dengan “mempertimbangkan kebutuhan pasar, ketersediaan pasokan, serta penawaran harga yang kompetitif [..] serta aspek keekonomian untuk memastikan kegiatan usaha berjalan optimal,” ujarnya kepada Bloomberg Technoz, Rabu (4/11/2026).
Saat dimintai konfirmasi ihwal desas-desus kontrak jual–beli emas antarkedua perusahaan tersebut dibatalkan oleh salah satu pihak, Wisnu memastikan kontrak tetap berlaku hingga saat ini.
“Antam terus menjaga hubungan kerja sama yang baik dengan PTFI serta berbagai mitra pemasok lainnya guna memastikan kesinambungan pasokan emas dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik,” ujar dia.
Sebelumnya, Direktur Utama Antam Untung Budiharto menyatakan perseroan telah menyerap 9 ton emas Freeport sepanjang Januari-Agustus 2026.
Emas yang dibeli Antam berasal dari fasilitas pemurnian logam mulia atau precious metal refinery (PMR) milik Freeport di Gresik, Jawa Timur. Fasilitas pemurnian tersebut menghasilkan emas dengan tingkat kemurnian 99,99%.
Antam dan Freeport sebelumnya telah menjalin kerja sama jual beli emas dengan kapasitas hingga 30 ton per tahun.
“Realisasi pembelian 9 ton emas dari PTFI sepanjang Januari hingga Agustus 2026 menunjukkan komitmen Antam untuk terus meningkatkan pemanfaatan emas yang bersumber dari dalam negeri,” ujar Untung dalam keterangan tertulis, Jumat (25/9/2026).
Selain dari Freeport, Antam juga menjalin kerja sama pasokan emas dengan sejumlah produsen domestik, di antaranya PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), Merdeka Group, PT Citra Palu Minerals, PT Agincourt Resources, PT Sumbawa Jutaraya, PT J Resources Bolaang Mongondow, dan PT Indo Muro Kencana.
Sebagai informasi, Antam membeberkan perseroan masih melakukan impor sekitar 30 ton emas untuk memenuhi permintaan domestik setiap tahunnya—sebagian besar impor itu dilakukan dari Singapura dan Australia.
Hanya saja, kapasitas produksi emas perseroan sekitar 1 ton per tahun dari tambang bawah tanah Pongkor, Jawa Barat. Dalam perkembangannya, manajemen menahan produksi pada level tersebut lantaran cadangan emas di Pongkor tinggal 5 ton.
Adapun, tambang emas Antam yang telah memasuki fase pascatambang itu diperkirakan memiliki sumber daya emas sekitar 26 ton.
Selain impor, Antam turut mendapat pasokan emas dari upaya pembelian kembali atau buyback logam mulia itu dari masyarakat, serta pembelian emas dari penambang lokal.
Pada semester I-2026, Antam mencatatkan volume penjualan emas sebesar 18.080 kilogram atau 18,08 ton, dengan nilai penjualan mencapai Rp50,39 triliun. Nilai tersebut meningkat 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sejumlah Rp49,68 triliun.
Penjualan emas menyumbang sekitar 80% terhadap total penjualan bersih Antam pada semester I-2026 yang mencapai Rp62,71 triliun.
Sementara itu, produksi emas dari tambang Antam pada periode yang sama tercatat sebesar 433 kilogram. (azr/wdh)
