Beban Produksi Membengkak, Cek Daya Tahan Laba Saham ANTM, TINS dan INCO

Prospek emiten tambang logam pada semester II/2026 diperkirakan masih akan dibayangi ketidakpastian global yang dipicu oleh sikap moneter ketat atau hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.

Sentimen penguatan dolar AS dan meredanya premi risiko geopolitik berpotensi memicu normalisasi harga komoditas. Di saat yang sama, kinerja keuangan para produsen dalam negeri juga diproyeksikan menghadapi tekanan dari sisi internal seiring dengan pembengkakan biaya operasional yang dapat memengaruhi margin keuntungan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey memproyeksikan akumulasi pendapatan emiten logam pada kuartal II/2026 masih tumbuh 38% secara tahunan menjadi US$4,5 miliar. Meski demikian, pertumbuhan lebih banyak ditopang faktor harga jual dan waktu pengakuan penjualan, bukan pemulihan volume produksi.

Di sisi lain, emiten tambang mulai menghadapi tekanan dari sisi biaya operasional akibat tingginya harga bahan bakar dan belerang (sulfur). Kondisi ini dinilai bakal menekan margin keuntungan perseroan pada paruh kedua 2026.

“Momentum laba pada kuartal II/2026 diperkirakan hanya terkonsentrasi pada beberapa emiten, terutama PT Amman Mineral Internasional Tbk. [AMMN] dan PT Vale Indonesia Tbk. [INCO],” ujarnya dalam riset, dikutip Senin (13/7/2026).

Namun, Andhika memandang bahwa tekanan dari sisi biaya produksi, khususnya komoditas sulfur akan cenderung bertahan lama atau persisten akibat rantai pasok global yang mengetat serta lonjakan permintaan domestik.

Selat Hormuz tercatat menangani hampir setengah dari total perdagangan sulfur global melalui jalur laut. Hambatan logistik di koridor tersebut diperparah oleh kebijakan China yang mulai membatasi ekspor asam sulfat. Di dalam negeri, peningkatan permintaan sulfur dari pabrik pengolahan nikel berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) secara struktural harus bersaing ketat dengan industri pengguna pupuk.

“Kami memperkirakan tekanan biaya terkait sulfur akan tetap tinggi sepanjang kuartal III/2026 dan baru akan mereda secara bertahap setelahnya,” tambahnya.

Sentimen Makro dan Spekulasi Kuota RKAB

Sementara itu, Indo Premier Sekuritas (IPOT) menyebutkan sektor logam mencatat hampir seluruh harga komoditas mengalami koreksi sepanjang Juni 2026. Penurunan itu dipicu oleh penguatan indeks dolar AS, meredanya konflik AS-Iran, serta prospek penambahan kuota rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) nikel.

Analis IPOT Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan mengungkapkan bahwa harga aluminium tercatat turun 19% secara bulanan. Di komoditas energi, harga minyak Brent kembali ke kisaran US$70 per barel setelah ketegangan di Timur Tengah mereda, posisi yang dinilai berada di bawah nilai wajarnya.

“Meski demikian, The Fed kemungkinan akan tetap hawkish dalam jangka pendek karena dampak lanjutan dari tingginya harga energi diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, mengingat energi menjadi kontributor terbesar terhadap tingginya indeks harga konsumen AS,” ujar Ryan dan Reggie.

Menurut Ryan dan Reggie, fokus pasar kini tertuju pada arah kebijakan pemerintah terkait kuota RKAB nikel domestik. Berdasarkan pengecekan lapangan, kuota RKAB diperkirakan meningkat menjadi 320 juta hingga 330 juta wet metric ton (wmt).

Realisasi penambahan kuota ini diproyeksikan bakal memperbaiki keseimbangan pasokan dan memberikan tekanan lanjutan pada harga nikel, meskipun angka tersebut lebih rendah dari rumor pasar sebelumnya yang mencapai 360 juta wmt.

Membedah Daya Tahan Laba ANTM, TINS, dan INCO

Kendati dihadapkan pada tantangan makro dan pembengkakan biaya, sejumlah sekuritas tetap mempertahankan prospek positif untuk sektor pertambangan logam secara selektif karena fundamentalnya yang dinilai tangguh.

 

Emiten Sentimen Utama & Strategi Analis Rekomendasi
TINS Laba semester I kokoh, menjadi penyangga (buffer) realisasi tahunan. Top Pick (Overweight)
ANTM Capaian laba awal tahun kuat, terlindungi kebijakan operasional. Top Pick (Overweight)
INCO Fokus pada pembalikan profitabilitas jangka menengah & pertumbuhan EPS. Top Pick (Overweight)

BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor logam. Andhika memilih saham ANTM, TINS, INCO hingga PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dengan memprioritaskan realisasi laba, perlindungan kebijakan, dan visibilitas eksekusi untuk periode semester II/2026.

“TINS dan ANTM masing-masing telah mencapai sebesar 77% dan 66% dari estimasi laba bersih tahun 2026 kami, sehingga hal tersebut memberikan penyangga yang berarti terhadap normalisasi pada paruh kedua tahun ini,” kata Andhika.

Baginya, AMMN dan INCO masih membutuhkan eksekusi yang berkelanjutan. Untuk itu, BRI Danareksa membedakan antara momentum laba jangka pendek dan visibilitas realisasi jangka menengah.

Di pihak lain, Ryan dan Reggie dari IPOT menegaskan kembali peringkat overweight untuk sektor ini lantaran ketidakpastian regulasi telah diantisipasi oleh harga saham. Mereka meyakini harga komoditas akan tetap kokoh dalam jangka menengah hingga panjang.

“Kami memilih MDKA dan INCO sebagai pilihan utama di sektor ini didorong by pembalikan profitabilitas untuk MDKA dan cerita pertumbuhan laba per saham [earnings per share/EPS] untuk INCO,” pungkas Ryan dan Reggie.

Sikap Pemerintah Terkait Regulasi Produksi

Di tengah berkembangnya berbagai spekulasi mengenai kemungkinan perubahan kuota produksi nikel menjelang periode revisi RKAB, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan belum ada keputusan resmi terkait besaran total RKAB nikel untuk 2026.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Tri Winarno mengatakan bahwa pemerintah masih membahas berbagai usulan perubahan RKAB yang diajukan pelaku usaha dan belum menetapkan angka produksi tertentu.

“Terkait RKAB nikel, pemerintah tetap akan menggunakan mekanisme evaluasi resmi sebelum menetapkan perubahan RKAB. Belum sampai pada keputusan angka, masih dalam pembahasan,” kata Tri melalui keterangan resmi.

Menurut Tri, pemerintah perlu memastikan produksi tetap sejalan dengan kebutuhan pasar dan industri hilir. Dengan demikian, pasokan bahan baku untuk smelter menjaga, sementara keseimbangan pasar, harga komoditas, dan keberlanjutan cadangan mineral nasional tetap menjadi perhatian dalam pengambilan keputusan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman

Sumber:

– 14/07/2026

Temukan Informasi Terkini

Jadwal Dividen Harita Nickel (NCKL), Cair 31 Juli 2026, Segini Besarannya

baca selengkapnya

Sumber Daya Emas dan Tembaga Gua Macan Merdeka Copper (MDKA) Naik 25%

baca selengkapnya

Antam (ANTM) Terus Terang terkait Emas Cs

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top