Bocoran soal DEWA, dari IPO Gayo Mineral hingga Dividen

Manajemen PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mengadakan earnings call bersama para analis pada Rabu (6/5/2026). Dalam pertemuan itu disinggung soal peluang penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Gayo Mineral Resources (GMR), prospek DEWA, hingga usulan dividen.

DEWA mempertahankan panduan volume overburden dari proyek yang ada berkisar 150-155 juta bcm pada 2026. “Ini mengindikasikan kenaikan 8-12% yoy dari realisasi 2025,” ungkap Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto dalam catatannya soal hasil earnings call DEWA, yang dikutip pada Kamis (7/5/2026).

Namun, manajemen DEWA belum memberikan timeline yang pasti terkait penambahan kontrak di luar ekosistem Grup Bumi Resources (BUMI).

Pada earnings call sebelumnya, manajemen DEWA menyampaikan adanya potensi proyek batu bara di Kalimantan Selatan dengan estimasi coal getting pasca–pemangkasan RKAB 2026 sebesar 1,4 juta ton atau setara 8% realisasi produksi batu bara DEWA 2025, serta proyek nikel di Sulawesi.

Adapun porsi pengerjaan DEWA di proyek nikel terpangkas sepenuhnya akibat penyesuaian RKAB. Manajemen masih menunggu hasil pengajuan RKAB kedua pada Mei/Juni 2026, yang jika disetujui akan membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan sejak kontrak diperoleh untuk mulai pengerjaan karena ada tahap pre–mining.

“Manajemen DEWA tetap optimistis kontrak tersebut dapat diperoleh pada 2027,” tulis Everson. Kontrak nikel diperkirakan memiliki rate lebih tinggi dibandingkan batu bara, seiring hauling distance yang lebih panjang.

Mengenai Gayo Mineral Resources (GMR), anak usaha Darma Henwa (DEWA), hasil eksplorasi akan diumumkan setelah fase ke–3 selesai pada 2027. Saat ini, eksplorasi masih berada pada fase ke–2. Level produksi baru dapat ditentukan setelah data cadangan (reserve) tersedia.

IPO Gayo Mineral dan Dividen 

DEWA juga membuka peluang IPO saham Gayo Mineral Resources. Rencana aksi korporasi ini mempertimbangkan kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar pada fase pengembangan operasional dan komersial.

Tahun ini, DEWA menyiapkan capex sebesar Rp 2,4 triliun dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai Rp 2,5 triliun dan 2024 sebesar Rp 1,5 triliun.

DEWA berencana menerbitkan obligasi sekitar Rp 1-1,5 triliun pada Juni atau Juli 2026, dengan target penghimpunan dana hingga Rp 3,5 triliun. Namun, itu masih akan bergantung pada minat pasar.

Manajemen DEWA, menurut Everson, juga akan mengusulkan pembagian dividen dari core profit tahun buku 2025 – mengecualikan keuntungan dari konsolidasi Gayo Mineral Resources – dalam RUPS pada 18 Mei 2026.

Sementara itu, prospek laba bersih DEWA pada 2026-2027 akan bergantung kepada tambahan kontrak baru di luar ekosistem Grup BUMI – masih menunggu hasil banding RKAB yang dijadwalkan pada Mei/Juni 2026.

Adapun EBITDA DEWA pada 2026 diproyeksikan sebesar Rp 2,4 triliun dibandingkan 2025 yang sebesar Rp 1,7 triliun.

Margin EBITDA DEWA secara konsolidasi tahun ini juga diperkirakan naik menjadi 33% dibandingkan 2025 yang sebesar 26%, dengan asumsi porsi pengerjaan internal mencapai 95% selama 2026. DEWA akan mulai melakukan pengerjaan in–house secara 100% pada Mei 2026. Editor: Jauhari Mahardhika

Sumber:

– 07/05/2026

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Selasa, 12 Mei 2026

baca selengkapnya

Apa Alasan Bahlil Tunda Kenaikan Royalti Tambang?

baca selengkapnya

Sikap Vale (INCO) soal Wacana Skema Baru Bagi Hasil Tambang

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top