Presiden Prabowo Subianto medio pekan lalu menyatakan raksasa aluminium asal Rusia, United Company Rusal, berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri.
Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.
“Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar—saya kira yang terbesar di dunia—yaitu Rusal,” kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Rusal sendiri merupakan salah satu perusahaan aluminium besar di dunia, di mana produksi aluminium dari perusahaan tersebut mencapai 3,91 juta ton pada 2025 dan setara sekitar 5,3% produksi aluminium dunia.
Namun, jauh sebelum rencana Rusal ingin berinvestasi di Indonesia, sejumlah perusahaan China sudah berbondong-bondong berinvestasi untuk membangun smelter aluminium di Indonesia.

Peta ekspansi smelter aluminium di Indonesia. (Bloomberg)
Ekspansi Tsingshan
Salah satu perusahaan China yang cukup ekspansif di sektor hilirisasi bauksit tersebut adalah Tsingshan Holding Group Co., perusahaan yang sebelumnya menjadi kunci bagi munculnya Indonesia sebagai pemain dominan di sektor nikel.
Di sektor aluminium, mereka telah bekerja sama dengan Huafon Group dan Xinfa Group untuk membangun dan mengoperasikan pabrik peleburan di kawasan industri Morowali, Sulawesi, dan di Maluku Utara; tempat Weda Bay berada.
Belum lama ini, Tsingshan dikabarkan sedang bernegosiasi dengan raksasa perdagangan komoditas Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk mengamankan investasi di smelter aluminium barunya senilai US$3 miliar di Indonesia.
Berikut daftar smelter aluminium asal China yang telah beroperasi dan yang dikabarkan bakal dibangun, menyitir data Fastmarkets:
PT Hua Chin Aluminium Indonesia
Hua Chin Aluminium Indonesia saat ini memiliki produksi aluminium primer sebesar 500.000 ton per tahun, dengan kapasitas yang sama hingga akhir 2026.
Perusahaan memiliki potensi peningkatan kapasitas hingga 1 juta ton per tahun. Fasilitasnya berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
PT Hua Chin Aluminium merupakan perusahaan patungan Huafon Group Co., Ltd., dan Tsingshan Holding Group Co., Ltd,
Proyek Juwan
Proyek Juwan merupakan proyek smelter aluminium primer yang dikembangkan melalui joint venture (JV) atau usaha patungan antara Tsingshan dan Xinfa Group di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Proyek ini telah beroperasi dengan kapasitas sekitar 250.000 ton per tahun.
Proyek Taijing
Proyek Taijing merupakan smelter aluminium primer yang dikembangkan melalui JV Tsingshan dan Xinfa di IMIP. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026 dengan kapasitas 180.000 ton per tahun.
Proyek Xianfeng
Smelter aluminium proyek Xianfeng ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026, dengan kapasitas awal sebesar 50.000 ton per tahun dan memiliki potensi kapasitas hingga 250.000 ton per tahun.
Proyek tersebut turut digarap oleh usaha patungan Tsingshan dan Xinfa.
PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA)
PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III 2026, dengan kapasitas produksi sebesar 250.000 ton per tahun.
Proyek tersebut berlokasi di Bintan Industrial Estate dan diperkirakan memiliki nilai investasi sekitar Rp12,3 triliun.
Shandong Weiqiao and Harita JV
Smelter aluminium milik usaha patungan Shandong Weiqiao dan Harita Group ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Proyek tersebut memiliki potensi kapasitas produksi aluminium primer sebesar 1 juta ton per tahun.
Nanshan Grup
Smelter aluminium milik perusahaan asal China, Shandong Nanshan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Proyek ini memiliki potensi kapasitas produksi aluminium primer sebesar 1 juta ton per tahun dan berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang.
PT Borneo Alumindo Prima Kalimantan Utara Electrolytic Aluminium Project
Proyek aluminium elektrolisis PT Borneo Alumindo Prima Kalimantan Utara masih berstatus rumor dalam data Fastmarkets. Proyek tersebut memiliki potensi kapasitas produksi sebesar 1 juta ton per tahun.
East Hope Group
Berdasarkan data Fastmarkets, proyek East Hope Group masih berstatus rumor. Smelter aluminium garapan perusahaan asal China tersebut memiliki potensi kapasitas produksi aluminium primer sebesar 2,4 juta ton per tahun.
CMOC Group Electrolytic Aluminium Project
Proyek aluminium elektrolisis CMOC Group masih berstatus rumor, dengan potensi kapasitas produksi sebesar 2 juta ton per tahun. CMOC Group merupakan perusahaan asal China yang telah memiliki smelter aluminium.
Bosai Minerals Group Electrolytic Aluminium Project
Proyek aluminium elektrolisis Bosai Minerals Group masih berstatus rumour, dengan potensi kapasitas produksi sebesar 1 juta ton per tahun.
Bosai Minerals Group merupakan perusahaan multinasional asal Chongqing, China yang bergerak di bidang pengolahan mineral. (wdh)
