Divestasi Tambang Emas BUMI Pacu Pendapatan Non Batu Bara

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyampaikan keterbukaan informasi terkait penyelesaian transaksi divestasi saham tambang emas PT Citra Palu Minerals (CPM). Agenda strategis tersebut tak luput dari sorotan pelaku pasar.

Melalui pengumuman yang disampaikan pada Senin (29/6), BUMI menyatakan telah rampung melepas seluruh sahamnya di CPM sebanyak 3,03% yang mencakup 24.999 saham Seri A dan 927.236 saham Seri C. Adapun PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) bertindak selaku pihak pembeli. Dalam dokumen keterbukaan informasi diungkap nilai transaksi mencapai US$9,06 juta atau setara dengan Rp151,99 miliar.

“Transaksi ini mencerminkan arah strategi Bumi Resources yang kini semakin berfokus pada aset-aset jangka dekat dengan kepentingan pengendali. Melalui divestasi ini, Perseroan dapat mengalokasikan kembali modalnya untuk mendukung inisiatif pertumbuhan yang terus dijalankan sejalan dengan agenda diversifikasi perseroan,” dikutip dari keterbukaan informasi perusahaan di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Meski melepas seluruh sahamnya, BUMI masih memiliki eksposur kinerja CPM melalui kepemilikan sahamnya di BRMS. Untuk diketahui, BUMI mengempit saham BRMS sebesar 20,09%. Sebelum transaksi divestasi, BRMS mengempit 19,48% saham CPM.

Analis Raka Junico dari MNC Sekuritas menilai transaksi ini sebagai bentuk dan masih dalam koridor restrukturisasi portofolio strategis grup yang lazim dilakukan oleh korporasi besar atau konglomerasi.

“Mengingat divestasi dilakukan ke entitas anak usaha yang masih sepengendalian, BUMI tidak kehilangan aset tambang emas berharganya. Ini justru menjadi contoh BUMI melalukan streamlining bisnisnya di level induk.” ujar Raka.

Raka juga menambahkan bahwa transaksi divestasi CPM ke BRMS juga bisa menjadi indikasi langkah strategis BUMI dalam meningkatkan fokus dan efisiensi pengelolaan aset dalam group. Dengan memindahkan eksposur tambang emas lokal miliknya ke BRMS, BUMI memperoleh fleksibilitas yang lebih besar untuk fokus membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi dimana BUMI tetap bisa menjadi pengendali.

“Bisa jadi modelnya memang BRMS akan konsolidasi aset tambang mineral lokal, sementara BUMI fokus aset-aset tambang global seperti Wolfram dan Jubilee di Australia. Lewat struktur baru ini, BUMI agile untuk alokasi modal dan ekspansi ke luar,” tambah Raka.

Aksi restrukturisasi yang dilakukan oleh BUMI juga dilakukan di saat harga emas sedang tinggi-tingginya. Saat ini harga emas masih diperdagangkan di atas US$4.000/troy ons secara global. Raka berharap dengan kondisi saat ini kontribusi pendapatan maupun EBITDA dari bisnis non-batu bara BUMI akan semakin terdongkrak bahkan mungkin bisa lebih cepat tercapai dari target tahun 2031.

BUMI dinilai akan semakin mantap menjadi perusahaan tambang multi-platform dengan aset batu bara berada di bawah kendali Arutmin dan Kaltim Prima Coal, eksposur terhadap mineral lewat BRMS, Wolfram, Jubilee hingga Loyal Metals yang dalam proses akuisisi.

Ditambah lagi dengan eksposur ke industrial metal lewat akuisisi 45% saham PT Laman Mining yang ditargetkan rampung tahun ini. Belum lagi BUMI juga memiliki saham minoritas di perusahaan kontraktor tambang yaitu PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

“BUMI sedang membangun disiplin membangun portofolio tambang yang komprehensif. Ini yang akan menjadi katalis untuk mencapai kontribusi EBITDA batu bara dan non-batu bara imbang dalam jangka menengah,” pungkas Raka. Editor: Heru Febrianto

Sumber:

– 01/07/2026

Temukan Informasi Terkini

Ekspor Batu Bara Lesu, Laba Emiten Terancam Menyusut

baca selengkapnya

Darma Henwa (DEWA) Raih Kontrak Jasa Tambang Rp22 Triliun dari Sebuku Sejaka Coal

baca selengkapnya

DPR-Danantara Bahas DDMF, Ini Peran Lembaga Baru Pendanaan Proyek Strategis

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top