Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor nikel dan barang daripadanya pada periode Januari-September 2026 meningkat sebesar US$3,15 miliar atau 32,98%, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Ekspor dengan kode HS 75 tersebut tercatat sebesar US$9,73 miliar sepanjang periode tersebut.
Ekspor nikel dan barang daripadanya pada September 2026 juga mengalami peningkatan mencapai US$1,15 miliar, atau 24,80%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai US$863,6 juta.
“Jika dilihat menurut sektornya, naiknya ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi pada industri pengolahan yang naik 8,93%. Sektor industri ini juga jadi pendorong utama atas naiknya kinerja ekspor nonmigas dengan andil 7,15%. Untuk ekspor sektor ini, kenaikan terbesar adalah produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik dari pertanian, alumunium serta tembaga,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers BPS, Senin (2/11/2026).
Sementara jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month), ekspor nikel dan turunannya mengalami pelemahan sebesar 14,84% dari yang tercatat US$1,35 miliar pada Agustus 2026.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kuota produksi bijih nikel dalam hasil revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mencapai 290-300 juta metrik ton (mt), naik dari kuota awal tahun yang diperkirakan sekitar 260-270 juta mt.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno memastikan seluruh RKAB nikel 2026 hasil revisi telah diterbitkan.
“Totalnya antara 290-300an [juta metrik ton] lah [kuota produksi nikel hasil revisi RKAB],” kata Tri kepada awak media di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan, Kamis (29/10/2026).
Ihwal kuota produksi dalam RKAB 2027, Tri menyatakan Kementerian ESDM bakal mempertimbangkan oversupply nikel global di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Future Exchange (SHFE) yang diprediksi sekitar 750.000 mt nikel (Ni).
Di sisi lain, Kementerian ESDM juga bakal mempertimbangkan stok bijih nikel nasional dalam menetapkan kuota produksi 2027.
“Itu juga mesti kita exercise supaya nanti jangan sampai produksi kita menambah lagi over-nya. Jadi bagaimana [perhitungan RKAB 2027] yang optimal bukan hanya untuk sesuai dengan semester, tetapi globalnya seperti apa,” tegas dia. (ros)
