MIND ID mendorong penguatan rantai pasok tembaga untuk memperkuat kedaulatan mineral sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Kepala Divisi Institutional Relations MIND ID Selly Adriatika mengatakan, langkah tersebut semakin strategis. Ini seiring meningkatnya kebutuhan tembaga untuk mendukung berbagai sektor industri, mulai dari kelistrikan, jaringan transmisi, elektronik, kendaraan listrik, hingga energi baru terbarukan.
Dia mengatakan, integrasi aset dan kapabilitas perusahaan di dalam holding menjadi bagian dari strategi untuk membangun rantai nilai mineral yang saling mendukung.
“MIND ID tidak melihat setiap aset dan perusahaan sebagai entitas yang berdiri sendiri. Kami mengintegrasikan sumber daya dan kapabilitas Anggota Holding agar dapat saling mendukung, sehingga hasil pengolahan mineral dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional dan memberikan nilai tambah di dalam negeri,” tutur Selly melalui keterangan resmi dikutip Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, penguasaan sumber daya tembaga menjadi semakin penting di tengah percepatan elektrifikasi dan transisi energi global. Dalam konteks tersebut, kepemilikan mayoritas MIND ID di PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi instrumen strategis untuk memperkuat penguasaan nasional atas sumber daya tembaga.
Selly menuturkan, upaya penguatan rantai nilai tersebut tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pertambangan dan pemurnian tembaga. PTFI juga mengembangkan Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik, Jawa Timur, yang mengolah anode slime, produk samping pengolahan konsentrat tembaga, menjadi logam mulia.
Adapun PMR PTFI memiliki kapasitas produksi sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun. Selly mengatakan, fasilitas tersebut dapat memperpanjang rantai nilai mineral di Indonesia sekaligus membuka peluang pemanfaatan produk hasil pengolahan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Menurutnya, integrasi tersebut mulai terealisasi pada Februari 2025 ketika PTFI mengirimkan 125 kilogram emas batangan berkadar 99,99% hasil produksi PMR kepada PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM), dengan nilai sekitar Rp207 miliar.
PTFI dan ANTAM sebelumnya juga telah menyepakati pembelian hingga 30 ton emas per tahun.
Kebutuhan domestik menjadi salah satu peluang yang dapat diperkuat melalui integrasi tersebut. Data World Gold Council mencatat permintaan emas batangan dan koin di Indonesia mencapai 31,6 ton pada 2025. Sementara itu, konsumsi emas untuk perhiasan mencapai 16,6 ton.
Dengan demikian, total kebutuhan dari kedua segmen tersebut mencapai sekitar 48,2 ton atau mendekati kapasitas produksi emas PMR PTFI yang mencapai sekitar 50 ton per tahun.
Selly mengatakan, penguatan rantai nilai mineral akan semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap mineral strategis. Oleh karena itu, pengembangan PTFI tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat keterhubungan antara kegiatan pertambangan, pengolahan, pemurnian, hingga industri hilir di dalam negeri.
Dalam konteks tembaga, percepatan pemulihan produksi Grasberg dan optimalisasi Smelter PTFI Gresik menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Selly mengatakan, kedua fasilitas tersebut tidak hanya menentukan kapasitas produksi tembaga nasional, tetapi juga berpotensi meningkatkan pemanfaatan mineral ikutan dan produk turunannya untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri.
“Apa yang MIND ID kerjakan hari ini adalah bagian dari perjalanan membangun industri pertambangan yang berdaulat, di mana kekayaan alam yang kita miliki dapat kita kelola dan kembangkan semaksimal mungkin untuk kepentingan bangsa. Sumber daya Indonesia harus menjadi kekuatan bagi generasi hari ini sekaligus fondasi bagi generasi yang akan datang,” katanya.
Selly menambahkan, dengan penguasaan aset strategis, hilirisasi, dan integrasi antar-Anggota Holding, MIND ID menargetkan mineral Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional. Editor : Fitri Sartina Dewi
