Harga batu bara melonjak di tengah kenaikan harga minyak dan kabar dari India.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (2/10/2026) ditutup di posisi US$ 149,4 per ton atau melonjak 1,5%. Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 10 September 2026.
Kenaikan ini memperpanjang reli positif dengan menguat dua hari beruntun.
Kenaikan harga batu bara salah satunya ditopang lonjakan harga minyak.
Harga minyak dunia dipicu kekhawatiran pasokan setelah AS dikabarkan mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah dan China menghentikan ekspor produk minyak.
Pada Kamis, Brent naik 4,37% menjadi US$102,31 per barel, sementara WTI menguat 2,71% ke US$92,87 per barel.
Minyak dan batu bara adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.
Kenaikan harga juga didorong kabar dari India.
Kekurangan pasokan listrik India melonjak ke level tertinggi lebih dari tiga tahun pada September 2026, meski pembangkit listrik berbahan bakar batu bara terus meningkatkan kapasitas untuk memenuhi lonjakan permintaan.
Data Grid-India menunjukkan kekurangan listrik mencapai 560 juta kWh pada September, tertinggi sejak Agustus 2023.
Pembangkit batu bara menghasilkan listrik 13,3% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Porsinya dalam total pembangkitan naik menjadi 66,03% dari 64,6% pada Agustus.
Di sisi lain, pembangkit energi terbarukan meningkat 25,1% menjadi 29,62 miliar kWh. Namun, kontribusinya terhadap total pembangkitan justru turun menjadi sekitar 17% dari 19,5%.
Analis menyebut penurunan pembangkit listrik tenaga air akibat curah hujan yang lebih rendah serta keterbatasan penyimpanan baterai mendorong peningkatan penggunaan batu bara.
Sekitar dua dari lima pembangkit batu bara juga dilaporkan memiliki persediaan bahan bakar pada level kritis.
Total produksi listrik India pada September naik 11,3% secara tahunan menjadi 174,17 miliar kWh, seiring meningkatnya permintaan dari sektor industri.
Menyusul kondisi tersebut, Coal India Ltd (CIL) meningkatkan pasokan batu bara ke sektor listrik sebesar 10,63% secara tahunan menjadi 48,90 juta ton (MT) pada September 2026, dari 44,20 MT pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Total penjualan atau offtake batu bara juga naik 12,5% menjadi 61,2 MT, sementara produksi meningkat 9,2% menjadi 53,5 MT. Pasokan ke sektor non-regulated bahkan melonjak 19,41%.
Pada kuartal II tahun fiskal 2027, total pasokan CIL mencapai 186,04 MT, naik 12,04% secara tahunan. Pasokan ke sektor listrik tumbuh 11% menjadi 148,20 MT.
Lonjakan pasokan tersebut membantu CIL mengurangi sekitar 63 MT stok batu bara di tambang selama enam bulan pertama FY2027.
Untuk tahun fiskal FY2027, pemerintah menargetkan Coal India memproduksi 815 MT dan memasok 850 MT batu bara. Produksi dan pasokan diperkirakan kembali meningkat setelah musim hujan berakhir.
Dari China, harga batu bara termal China menguat karena pembeli mulai melakukan restocking, sementara penjual menahan stok karena memperkirakan pasokan tetap ketat setelah liburan.
Pemulihan produksi tambang China diperkirakan berjalan bertahap, sehingga tambahan pasokan ke pelabuhan utara masih terbatas.
Persediaan dan konsumsi pembangkit menjadi perhatian utama setelah liburan. Konsumsi batu bara enam grup pembangkit listrik pesisir utama China mencapai 890 ribu ton pada 29 September, naik 0,11% mingguan tetapi turun 6,83% bulanan.
Batu Bara Impor Makin Kuat
Pasar batu bara impor China juga menunjukkan penguatan. Harga penawaran dalam tender pembangkit listrik meningkat karena ketersediaan kargo jangka pendek menurun dan pasokan ke depan masih terbatas.
Untuk batu bara Australia 5.500 kcal/kg NAR, penawaran eksportir berada sekitar US$110/ton FOB.
Sementara batu bara Indonesia 3.800 kcal/kg NAR ditawar trader sekitar 670-680 yuan/ton CFR China, setara sekitar US$77-78/ton FOB.
Harga indeks batu bara Indonesia 3.800 kcal/kg NAR pada 30 September naik US$0,5 menjadi US$76,5/ton FOB dan US$88,5/ton CFR China. (mae/mae)
