Harga batu bara menanjak di tengah kembali panasnya harga minyak dan kenaikan permintaan.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (10/6/2026), ditutup di posisi US$148,00 per ton atau naik 0,72%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya ambruk 2,26%.
Harga batu bara menguat mengikuti harga minyak karena keduanya saling substitusi.
Harga minyak WTI melonjak hampir 2% menjadi US$89,72 per barel, sementara Brent menguat 1,3% menjadi US$92,74 per barel.
Kenaikan harga batu bara juga ditopang permintaan.
Konflik yang memanas di Timur Tengah mulai mengubah peta energi Asia. Gangguan pasokan LNG (gas alam cair) dari kawasan Teluk, terutama Qatar, membuat sejumlah negara Asia kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga pasokan listrik.
Sekitar 20% perdagangan LNG dunia selama ini melewati Selat Hormuz. Ketegangan di kawasan tersebut memicu lonjakan harga LNG dan membuat utilitas listrik beralih ke batu bara yang dinilai lebih murah dan lebih mudah diperoleh.
Dampaknya mulai terlihat di negara-negara konsumen energi terbesar Asia. Jepang dan Korea Selatan meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara, sementara penggunaan gas alam mengalami penurunan.
Riset Rystad Energy memperkirakan konsumsi batu bara termal Asia dapat melonjak hingga 100 juta ton akibat krisis pasokan LNG, dengan sekitar separuh kenaikan diperkirakan terjadi pada 2026.
Tak hanya Asia Timur, negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, dan Philippines juga mulai meningkatkan penggunaan PLTU demi menjaga keamanan pasokan listrik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah gencarnya transisi energi, batu bara masih menjadi “penyelamat” ketika pasokan energi alternatif terganggu. Banyak negara tetap berkomitmen pada energi hijau, tetapi keamanan energi jangka pendek kini menjadi prioritas utama.
Jika tren ini berlanjut, permintaan batu bara Asia berpotensi melonjak tajam dan menjadi katalis positif bagi harga batu bara global, termasuk menguntungkan eksportir batu bara seperti Indonesia. (mae/mae)
