Harga Batu Bara Seperti Kehilangan Arah, Gara-Gara China?

Harga batu bara menguat tipis. Harga batu bara masih dibayangi pergerakan minyak dan perkembangan di China.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (12/8/2026) ditutup di US$ 134,1 per ton. Harganya menanjak tipis 0,07%.

Minyak dan batu bara adalah komoditas yang saling substitusi sehingga harganya memengaruhi. Harga batu bara sudah ada di kisaran US$ 134 dan nyaris “kehilangan arah” tidak bergerak selama tiga hari beruntun.

Harga minyak naik tipis pada Rabu (12/8/2026) di tengah berlanjutnya serangan terhadap kapal di Timur Tengah dan mandeknya pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran.

Harga Brent naik 7 sen menjadi US$88,98 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 7 sen menjadi US$83,27 per barel.

Harga batu bara masih dibayangi beragamnya permintaan dari sejumlah negara.

Ekspor seluruh jenis batu bara dari Pelabuhan Newcastle di New South Wales, Australia Tenggara, mencapai 12,63 juta ton pada Juli 2026. Angka ini turun 16,5% secara bulanan dan 7% secara tahunan, berdasarkan data terbaru otoritas pelabuhan.

Pelabuhan Newcastle merupakan salah satu jalur penting ekspor batu bara Australia ke pasar global, dengan sebagian besar berupa batu bara termal, menurut Mysteel Global.

Penurunan tersebut terutama dipicu berkurangnya pengiriman dari pelabuhan menuju negara-negara tujuan utama di Asia Timur Laut.

Berdasarkan data maritim Mysteel, pengiriman batu bara dari Newcastle ke China mencapai 2,38 juta ton pada Juli, turun 41% secara bulanan dan 25% secara tahunan.

Importir China kemungkinan mengurangi pembelian dari Newcastle pada Juli karena permintaan pengisian kembali stok dari perusahaan listrik domestik masih lemah.

Meski perusahaan listrik China meningkatkan konsumsi batu bara untuk memenuhi permintaan listrik yang lebih tinggi selama musim panas, banyak perusahaan hanya melakukan pembelian di pasar spot secara terbatas.

Pasokan domestik yang stabil melalui kontrak jangka panjang membuat stok batu bara mereka tetap berada pada level yang aman.

Berdasarkan survei Mysteel terhadap 493 pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di China, total persediaan batu bara mereka mencapai 97,89 juta ton pada 30 Juli, naik dari 97,19 juta ton pada akhir Juni. Stok tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sekitar 22 hari.

Kendati demikian, pasar batu bara termal di pelabuhan utara China juga tetap menguat. Harga batu bara dengan kalori 4.500 Kcal/kg mencapai level tertinggi baru.

Kenaikan didukung oleh penurunan stok dan ketersediaan batu bara berkalori rendah yang ketat. Namun, momentum kenaikan mulai menghadapi resistensi, sehingga ruang kenaikan lebih lanjut dinilai semakin terbatas.

Selain China, ekspor batu bara Australia melalui Newcastle ke Jepang turun 13% secara bulanan dan 22% secara tahunan menjadi 5,13 juta ton pada Juli.

Sementara itu, pengiriman ke Korea Selatan hanya mencapai 265.320 ton, anjlok 80% secara bulanan dan 37% secara tahunan.

Meski turun pada Juli, secara kumulatif Januari-Juli 2026, total ekspor batu bara untuk seluruh penggunaan melalui Pelabuhan Newcastle mencapai 87,36 juta ton, naik 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (mae/mae)

Sumber:

– 13/08/2026

Temukan Informasi Terkini

Freeport Percepat Operasional Smelter Baru di Gresik jadi Agustus 2026

baca selengkapnya

Benahi Rantai Pasok Emas, MIND ID Dorong Formalisasi Tambang Rakyat

baca selengkapnya

ESDM perbaiki tata kelola penambang emas liar lewat mekanisme IPR

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top