Harganya Mati Suri, Listrik Batu Bara Eropa Terendah dalam Sejarah

Harga batu bara melemah tipis tetapi masih bergerak di kisaran US$ 134.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (13/8/2026) ditutup di US$ 133,9 per ton. Harganya melandai 0,15%.

Harga batu bara melemah di tengah melandainyya minyak dan banyak kabar negatif.

Pada perdagangan Kamis, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun lebih dari 2% dan ditutup di US$87,07 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga merosot lebih dari 2% ke US$81,25 per barel.

Minyak dan batu bara adalah komoditas yang saling substitusi sehingga harganya memengaruhi.

Harga batu bara kokas China kembali menguat, karena pembeli bersaing mendapatkan kargo dalam waktu dekat (prompt cargoes) yang jumlahnya terbatas, terutama untuk jenis batu bara kokas berkualitas tertentu. Permintaan spekulatif juga meningkat sehingga penjual menaikkan harga penawaran.

Pasokan menjadi faktor utama kenaikan harga di China. Ketersediaan kargo untuk pengiriman cepat terbatas sehingga pembeli bersedia membayar scarcity premium atau premi kelangkaan.

Permintaan spekulatif meningkat, membuat persaingan mendapatkan batu bara kokas semakin ketat.

Harga batu bara kokas domestik China juga menunjukkan penguatan. Indeks batu bara kokas rendah sulfur Shanxi mencapai CNY 2.037/ton, naik CNY 53/ton dalam sehari dan CNY 66/ton dalam sepekan.

Persediaan batu bara kokas tercatat sekitar 1,019 juta ton pada 12 Agustus, naik 16,5% secara mingguan dan 101,5% secara tahunan. Artinya, meskipun stok secara total meningkat, jenis dan kualitas batu bara tertentu tetap langka, terutama untuk kebutuhan segera.

Sebaliknya, harga batu bara termal di pelabuhan-pelabuhan utara China mulai tertahan, setelah aktivitas pembelian melemah. Aksi ambil untung dari penjual meningkat, tetapi tekanan biaya dan pasokan yang ketat memberikan batas bawah bagi harga, sehingga penurunan lebih dalam masih tertahan.

Setelah harga naik, pembeli menjadi lebih hati-hati dan menunggu perkembangan harga. Ini membuat transaksi di pelabuhan utara China mulai melambat.

Kenaikan harga sebelumnya telah mendorong sebagian pedagang melepas stok untuk mengunci keuntungan. Ini menciptakan tekanan terhadap harga.

Pasokan yang masih ketat dan tingginya biaya pengadaan batu bara membuat penjual tidak leluasa menurunkan harga. Karena itu, harga cenderung sideways ketimbang jatuh tajam.

Di satu sisi, permintaan melemah. Di sisi lain, pasokan yang ketat menopang harga. Akibatnya, momentum kenaikan batu bara termal di pelabuhan utara China mulai kehilangan tenaga.

China & India Kompak Pangkas Listrik dari Batu Bara

Analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan pembangkit listrik tenaga batu bara di China turun 1,6% dan India 3% pada tahun lalu. Ini menjadi penurunan secara bersamaan pertama di kedua negara sejak 1973.

Penurunan tersebut terutama didorong oleh lonjakan pembangkit energi terbarukan yang mampu memenuhi kenaikan permintaan listrik di kedua negara.

China menambah lebih dari 300 GW kapasitas tenaga surya dan 100 GW tenaga angin, mencetak rekor baru. Sementara India menambah sekitar 35 GW surya, 6 GW angin, dan 3,5 GW tenaga air.

Di India, pertumbuhan energi bersih menyumbang sekitar 44% penurunan pembangkit batu bara dan gas dibandingkan tren lima tahun sebelumnya. Cuaca yang lebih sejuk berkontribusi sekitar 36%, sedangkan perlambatan permintaan listrik menyumbang sekitar 20%.

Namun, analis mengingatkan bahwa faktor cuaca tetap menjadi risiko. Suhu musim panas yang lebih tinggi dapat meningkatkan penggunaan AC dan kembali mendorong pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Perkembangan ini penting karena China dan India menyumbang lebih dari 90% kenaikan emisi karbon global pada 2015-2024.

Jika tren penurunan konsumsi batu bara berlanjut, China dan India berpotensi menjadi penentu penting kapan konsumsi batu bara dan emisi global mencapai puncaknya.

Namun, prospek tersebut masih bisa berubah. Gejolak pasar energi, seperti lonjakan harga gas setelah invasi Rusia ke Ukraina, sebelumnya membuat sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batu bara.

Eropa Cetak Rekor Terendah Penggunaan Batu Bara

Di Eropa juga senada. Pada 2025, batu bara keras (hard coal) menyumbang 3,7% atau 105.601 GWh dari total produksi listrik bruto Uni Eropa (UE). Sementara itu, batu bara lignit/cokelat (brown coal) menyumbang 5,5% atau 154.186 GWh.

Pada 2024, porsi total batu bara dalam produksi listrik UE untuk pertama kalinya turun di bawah 10%. Pada 2025, porsinya kembali turun menjadi 9,2%, level terendah sepanjang sejarah.

Pada 1990, batu bara menyumbang lebih dari sepertiga produksi listrik UE. Pada 2000, porsinya turun menjadi 30,4%. Tren penurunan berlanjut, meski sempat mengalami sedikit kenaikan pada 2011-2012 dan 2021-2022, hingga mencapai titik terendah pada 2025.

Komposisi sumber listrik UE

Komposisi sumber listrik UE Foto: https://ec.europa.eu

Pada 1990, batu bara keras dan batu bara cokelat masing-masing merupakan sumber listrik terbesar kedua dan ketiga, dengan kontribusi 19,8% dan 15,3%. Namun pada 2025, keduanya turun menjadi sumber listrik keenam dan ketujuh, di bawah energi nuklir, gas alam, dan energi terbarukan.

Batu bara mulai tersalip energi nuklir pada 1994, gas alam pada 2019, tenaga air dan angin pada 2023, serta tenaga surya pada 2024.

Penurunan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik terjadi bersamaan dengan produksi dan konsumsi batu bara yang mencapai titik terendah dalam sejarah.

Pada 2025, konsumsi batu bara keras di UE diperkirakan mencapai rekor terendah 107 juta ton, sedangkan konsumsi batu bara cokelat sekitar 184 juta ton.

Sejumlah negara UE juga terus menghentikan penggunaan batu bara, baik sepenuhnya maupun untuk pembangkit listrik dan panas.

Pada 2021, Portugal berhenti menggunakan batu bara keras untuk pembangkit listrik. Kemudian pada 2024, Slovakia menghentikan produksi batu bara cokelat, sehingga kini hanya tersisa 8 negara UE yang masih memproduksi batu bara cokelat. (mae/mae)

Sumber:

– 14/08/2026

Temukan Informasi Terkini

AMMAN Integrasikan Operasi Tambang hingga Smelter Lewat Digitalisasi

baca selengkapnya

Freeport Proyeksi Perbaikan Smelter PT Smelting Rampung Kuartal III/2026

baca selengkapnya

Merdeka Gold (EMAS) Konversi Utang Anak Usaha Rp 4,78 Triliun Jadi Modal

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top