Indeks Bisnis-27 ditutup menguat 1,40% atau 6,07 poin ke level 440,67 pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Penguatan indeks ditopang reli saham DEWA, BRMS, dan BUMI.
Berdasarkan data IDX Mobile, indeks kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ditutup menghijau ke level 440,67. Sepanjang perdagangan Selasa (21/7) Indeks Bisnis-27 bergerak di rentang 435,22–440,67, dan ditutup di level tertinggi hariannya.
Nilai transaksi saham konstituen indeks mencapai Rp7,307 triliun dengan volume 10,67 miliar saham dan frekuensi 550,3 ribu kali transaksi. Dari 27 saham anggota indeks, sebanyak 21 saham menguat, lima saham melemah, dan satu saham ditutup tidak berubah.
Penguatan indeks dipimpin oleh saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang melesat 10,55% ke level 440. Kenaikan juga terjadi pada PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang menguat 7,83% menjadi 620, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang naik 5,66% ke level 168.
Sentimen positif turut mengangkat saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) yang naik 3,19% ke level 1.455, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang menguat 2,86% menjadi 540, serta PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) yang bertambah 2,67% ke level 1.540.
Di sisi lain, penguatan Indeks Bisnis-27 tertahan oleh pelemahan sejumlah saham sektor kesehatan dan pertambangan. PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) menjadi saham dengan koreksi terdalam setelah turun 3,25% ke level 745.
Tekanan juga dialami PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) yang melemah 1,17% ke level 2.540 dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) yang turun 0,82% menjadi 2.420. Sementara itu, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) terkoreksi 0,57% ke level 1.750 dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) melemah 0,38% ke posisi 26.100. Adapun PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) ditutup stagnan di level 2.080.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai pasar saham Indonesia masih memiliki ruang penguatan dengan ditopang membaiknya fundamental domestik dan terjaganya kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.
Di sisi global, sentimen pasar masih dibayangi meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah yang telah naik sekitar 20% sepanjang Juli, termasuk kenaikan sekitar 1% pada perdagangan 20 Juli.
Menurut Phintraco, kenaikan harga energi berpotensi memicu kembali tekanan inflasi di Amerika Serikat. Apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang lama, pasar mulai memperhitungkan peluang bank sentral AS (Federal Reserve) kembali menaikkan suku bunga acuannya.
“Kenaikan harga minyak yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan inflasi AS dan memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” tulis riset tersebut, Selasa (21/7).
Kekhawatiran tersebut turut tercermin pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,594%, sementara harga emas cenderung bergerak stabil di kisaran US$4.006 per troy ounce, seiring investor terus mencermati perkembangan konflik dan arah kebijakan moneter AS.
Selain faktor geopolitik, pasar global juga masih dibayangi kekhawatiran terhadap tingginya valuasi saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang memicu tekanan di Wall Street pada awal pekan.
Di dalam negeri, Phintraco melihat kondisi fundamental masih relatif solid. Berdasarkan Survei Perbankan Bank Indonesia, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru melonjak menjadi 93,08% pada kuartal II/2026, jauh lebih tinggi dibandingkan 38,74% pada kuartal I/2026 maupun 85,22% pada periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan tersebut ditopang oleh pertumbuhan seluruh segmen kredit, mulai dari Kredit Modal Kerja dengan SBT 94,34%, Kredit Investasi 93,51%, hingga Kredit Konsumsi 83,67%. Meski demikian, Bank Indonesia mencatat perbankan masih menerapkan standar penyaluran kredit yang lebih selektif.
Phintraco menilai peningkatan penyaluran kredit tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih berada dalam fase ekspansif, seiring meningkatnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha maupun masyarakat.
Di tengah tekanan eksternal, sentimen domestik juga memperoleh dukungan dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level investment grade BBB dengan prospek stabil. Keputusan tersebut dinilai memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Meski demikian, Phintraco mengingatkan bahwa risiko utama pasar masih berasal dari potensi kenaikan harga minyak yang berkelanjutan. Kondisi tersebut dapat mendorong penguatan dolar AS sekaligus membuka peluang kenaikan suku bunga The Fed, yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman
