Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong integrasi industri nikel ASEAN melalui penguatan Indonesia–Philippines Nickel Corridor. Indonesia dan Filipina saat ini menguasai sekitar 73,6 persen produksi tambang nikel global berdasarkan estimasi United States Geological Survey (USGS) 2025.
Kadin Indonesia bersama Philippine Chamber of Commerce and Industry (PCCI) membahas penguatan rantai pasok mineral kritis dalam Indonesia–Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Filipina. Forum tersebut berlangsung bertepatan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada KTT ASEAN ke-48 dan turut membahas ketahanan pangan, ekonomi digital, energi, hingga konektivitas industri kawasan.
“Forum tingkat tinggi Kadin Indonesia–PCCI telah meletakkan peta jalan tidak hanya untuk kerja sama bilateral, tetapi juga untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih siap menghadapi realitas geoekonomi saat ini,” kata Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia Bernardino Moningka Vega, dikutip Ahad (10/5/2026).
Bernardino mengatakan Indonesia–Philippines Nickel Corridor menjadi arah baru kerja sama ekonomi ASEAN yang tidak lagi hanya bertumpu pada perdagangan komoditas. Menurut dia, integrasi tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi ASEAN dalam rantai pasok mineral kritis global.
Indonesia–Philippines Nickel Corridor dirancang untuk menghubungkan kekuatan hilirisasi nikel Indonesia dengan basis pasokan bijih nikel Filipina. Skema tersebut diproyeksikan mendukung kebutuhan industri stainless steel, baterai kendaraan listrik, penyimpanan energi, hingga berbagai aplikasi industri lainnya.
Pada 2025, Indonesia memproduksi sekitar 2,6 juta metrik ton nikel, sedangkan Filipina menghasilkan sekitar 270 ribu metrik ton. Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki sekitar 62 juta metrik ton cadangan nikel dan Filipina sekitar 4,8 juta metrik ton.
Kerja sama tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA). Kolaborasi itu mencakup pertukaran data dan informasi nikel, dialog regulasi, promosi investasi lintas negara, pengembangan metodologi environmental, social, and governance (ESG), hingga program peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor nikel.
“ASEAN akan paling kuat ketika bertindak sebagai satu kesatuan. Dan inti dari persatuan ini adalah hubungan bilateral yang sangat kuat antara Indonesia dan Filipina,” ujar Presiden Philippine Chamber of Commerce and Industry (PCCI) Ferdinand Ferrer.
Kadin Indonesia menilai koridor tersebut juga membuka peluang bagi Filipina untuk bergerak melampaui ekspor bahan mentah melalui keterhubungan dengan pemrosesan regional dan penguatan kapasitas industri. Bagi Indonesia, kerja sama itu memperkuat kepastian pasokan bahan baku untuk mendukung ekosistem hilirisasi nikel yang terus berkembang.
Forum bisnis tersebut juga menghasilkan sejumlah kesepakatan lain. Kadin Indonesia dan PCCI menyepakati strategic cross-chamber cooperation untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan hubungan bisnis di sektor prioritas seperti mineral kritis, ekonomi syariah, keuangan digital, ketahanan pangan, dan energi.
Kadin Indonesia juga menjalin agricultural technology collaboration dengan Philippine Chamber of Agriculture and Food yang mencakup riset pertanian digital, pupuk organik, hingga transfer teknologi pangan. Di sektor aviasi, Garuda Maintenance Facility dan JAR Aviation Services membuka peluang proyek aviasi di Filipina dengan nilai indikatif mencapai 80 juta dolar AS.
Kerja sama lain datang dari Agro Investama Group bersama RBN Solutions Inc. dan Ploutus Inc. yang menyiapkan pembangunan fasilitas pemrosesan nikel di Filipina. Proyek tersebut mencakup pasokan nikel minimum 200 ribu metrik ton per bulan mulai Juni 2026 guna mendukung rantai pasok baterai dan kendaraan listrik.
Kadin Indonesia menyatakan seluruh kesepakatan tersebut akan ditindaklanjuti melalui dialog bisnis berkala, misi dagang, fasilitasi investasi, dan kerja sama antar-asosiasi sektoral. Forum tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Undersecretary of Department of Trade and Industry of the Philippines Alan Gepty, serta lebih dari 40 pengusaha dari Indonesia dan Filipina.
