Integrasi data ekspor hingga tingkat transaksi yang dibangun PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI dinilai berpotensi memperkuat kemampuan Indonesia membaca alur perdagangan dan mengoptimalkan nilai ekonomi komoditas strategis. Penguatan visibilitas perdagangan juga dinilai penting untuk mengevaluasi strategi ekspor di tengah tekanan terhadap kinerja perdagangan dan ketidakpastian ekonomi global.
“Pada kuartal yang baru dirilis, neraca perdagangan kita bahkan sudah tidak surplus lagi. Artinya, perlu ada refleksi dan koreksi mengenai strategi ekspor di tengah kondisi ketidakpastian global,” ujar Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin seperti dikutip pada Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada Juni 2026, neraca perdagangan kembali mengalami defisit sebesar USD450 juta.
Eddy mengatakan visibilitas transaksi diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perdagangan, tidak hanya dari sisi nilai dan volume, tetapi juga kualitas komoditas, harga, klasifikasi produk, lokasi pengiriman, negara tujuan, hingga penerimaan devisa. “Visibilitas yang tinggi merupakan hal yang relevan dan pivotal karena dapat memperkuat transparansi, objektivitas, dan kepastian dalam hal kuantitas, lokasi tujuan, perpajakan, dan aspek lainnya,” katanya.
Sejak beroperasi pada 1 Juni 2026, DSI telah membangun visibilitas analitis atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari USD14 miliar dan volume lebih dari 90 juta ton komoditas. Transaksi tersebut mencakup lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi dengan tujuan lebih dari 100 negara.
Melalui integrasi data ekspor nasional dan referensi pasar global, DSI menghubungkan informasi harga, volume, kualitas, klasifikasi Harmonized System (HS), kapal pengangkut, dan pasar tujuan. Analisis awal DSI bersama sejumlah badan usaha milik negara juga mengidentifikasi potensi optimalisasi nilai sekitar USD5 miliar per tahun.
Namun, Eddy mengingatkan peningkatan visibilitas data tidak secara otomatis meningkatkan kinerja ekspor. “Yang diperlukan juga adalah strategi mengelola sumber daya, meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, memperluas perjanjian perdagangan bebas, memetakan negara tujuan ekspor, dan mengimplementasikan strategi global,” ujarnya.
Direktur Utama DSI Luke Mahony mengatakan perseroan terus membangun sistem dan kapabilitas pemantauan, verifikasi, serta operasional untuk mendukung ekosistem ekspor yang transparan, akuntabel, dan efisien.
“Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI,” kata Luke dalam keterangan resmi, Senin (24/8).
Menurut Eddy, penguatan visibilitas oleh DSI perlu diikuti strategi bisnis dan peningkatan daya saing oleh perusahaan eksportir. Sinergi tersebut berpotensi memperbaiki kinerja perdagangan, memperkuat devisa hasil ekspor, serta meningkatkan kontribusi komoditas strategis terhadap perekonomian nasional. (nng)
