Emiten batu bara pelat merah, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,65 triliun pada semester I/2026.
Kinerja tersebut ditopang pemulihan operasional pada kuartal II/2026 serta penguatan harga jual rata-rata batu bara.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan kondisi operasional yang lebih kondusif mendorong perseroan memulihkan produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan.
“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan,” kata Bambang dalam pernyataan tertulis, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, momentum penguatan harga batu bara global dimanfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif. Langkah tersebut dibarengi dengan program efisiensi yang dinilai mampu menjaga disiplin biaya di tengah tantangan operasional.
PTBA juga mencatatkan pendapatan usaha senilai Rp22,03 triliun hingga Juni 2026, naik 8% secara tahunan.
Kenaikan pendapatan terjadi meskipun volume penjualan turun 2% YoY. Perseroan terbantu oleh penguatan harga batu bara, tercermin dari Newcastle Index yang naik 25% YoY dan ICI-3 yang meningkat 15% YoY.
Kondisi tersebut mendorong harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) PTBA naik 10% YoY.
Dari sisi pasar, penjualan domestik menyumbang sekitar 51% dari total penjualan, sedangkan ekspor mencapai 49%. Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Sementara itu, beban pokok pendapatan turun 2% YoY menjadi Rp17,78 triliun. Penurunan tersebut sejalan dengan turunnya volume produksi dan angkutan.
Produksi batu bara PTBA pada semester I/2026 tercatat turun 10% YoY, sedangkan volume angkutan terkoreksi 6%. Stripping ratio juga turun menjadi 5,26 kali dari 6,17 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Efisiensi Jadi Penopang Margin
Tekanan biaya masih membayangi kinerja PTBA. Konflik di Selat Hormuz yang terjadi sejak akhir Februari 2026 turut mendorong harga BBM menjadi **Rp19.503 per liter** hingga 30 Juni 2026, naik 34% YoY.
Kenaikan harga BBM tersebut berdampak terhadap biaya jasa penambangan dan angkutan kereta api. Namun, PTBA mampu menjaga biaya operasional melalui program efisiensi dan disiplin operasional.
Beban operasional tercatat naik Rp184,84 miliar atau 13% YoY, terutama akibat peningkatan beban umum dan administrasi.
Di sisi lain, PTBA mencatatkan EBITDA sebesar Rp4,27 triliun, dengan EBITDA margin 19%. Net profit margin perseroan berada di level 12%.
Kinerja bottom line juga mendapat tambahan dari bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama yang melonjak menjadi Rp438,30 miliar, dibandingkan Rp209,86 miliar pada semester I/2025.
Penghasilan keuangan naik 6% YoY menjadi Rp108,58 miliar, sementara biaya keuangan turun 25% YoY menjadi Rp98,99 miliar seiring dengan penurunan beban bunga pinjaman bank.
Produksi 49,55 Juta Ton Jadi Target 2026
Memasuki semester II/2026, PTBA masih memiliki ruang untuk mengakselerasi kinerja operasional. Perseroan mempertahankan panduan produksi batu bara 2026 sebesar 49,55 juta ton dan target penjualan 49,51 juta ton.
Volume angkutan ditargetkan mencapai 41 juta ton, dengan stripping ratio sebesar 5,63 kali.
Untuk menopang ekspansi dan operasional, PTBA menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp3,64 triliun sepanjang 2026. Hingga semester I/2026, realisasi capex baru mencapai 30% atau sekitar Rp1,09 triliun.
Dengan demikian, sekitar Rp2,55 triliun capex masih akan direalisasikan pada semester II/2026 jika perseroan memenuhi target tahunan.
Pemulihan produksi pada kuartal II/2026 menjadi modal penting bagi PTBA untuk mengejar target tersebut. Produksi pada kuartal II melonjak 94% secara kuartalan, sementara penjualan meningkat 8%.
ASP juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 14% secara kuartalan dan 10% YoY.
Kombinasi pemulihan volume, harga jual yang menguat, serta efisiensi biaya menjadi katalis penting bagi kinerja PTBA pada paruh kedua 2026.
“Capaian tersebut mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menangkap momentum pasar secara optimal, dengan tetap menjaga disiplin operasional dan efisiensi biaya sebagai fondasi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan,” ujar Bambang.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman
