Industri pertambangan saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan. Mereka harus melakukan transformasi mengikuti arah kebijakan nasional. Melalui Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 serta regulasi terbaru di tahun 2023, pemerintah berupaya menciptakan ekosistem yang lebih teratur, meskipun bagi para pelaku usaha, sistem ekonomi pertambangan saat ini dirasakan kian kompleks.
Saat ini banyak isu yang saling terhubung di industri pertambangan, mulai dari penguasaan cadangan, hilirisasi, tantangan teknis penambangan, dampak lingkungan, tanggung jawab sosial (CSR), teknologi pengolahan, hingga pengelolaan limbah.
Menurut Mantan Direktur Utama Antam dan Chairman ITB Mining Engineering Alumni Association Achmad Ardianto arah kebijakan pemerintah saat ini telah menempatkan hilirisasi sebagai pernyataan mandatori. Peran industri bukan hanya memastikan program ini berjalan, melainkan mengakselerasinya agar berjalan lebih cepat dan tepat.
“Hilirisasi adalah kunci untuk melepaskan diri dari ketergantungan ekspor bahan mentah dan meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional,” ungkap Ardianto yang pernah menjadi Direktur Utama Timah dan Direktur Utama Antam dalam konfrensi pers METCONNEX 2026 dengan tema “Strengthening Indonesia’s Metallurgy Industry: Towards Sustainable Growth and Global Competitiveness”, Kamis (7/5).
Ardianto mengatakan, perubahan besar selalu membawa tantangan yang beragam. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan kerja sama lintas sektor yang dikenal dengan konsep Pentahelix, Pemerintah sebagai pembuat aturan dan regulator.
Lalu pengusaha sebagai pelaku utama penggerak ekonomi, akademisi memberikan fondasi pendidikan dan riset, komunitas profesi memberikan dukungan sosial dan keahlian spesifik, dan media sebagai elemen kelima yang krusial dalam menyebarkan informasi dan edukasi.
Ia mengatakan, tanpa adanya proses edukasi yang masif kepada masyarakat melalui peran media dan komunitas, upaya untuk mencapai kemandirian industri akan sangat sulit diwujudkan. Kerja sama yang solid akan memberikan peluang bagi pemerintah untuk mengejar target-target strategisnya.
Peran Strategis METCONNEX dalam konteks ini, kata Ardianto hadir sebagai platform strategis untuk mendukung proses edukasi secara end-to-end. Fokus utamanya adalah pada peningkatan teknologi proses yang mendukung pengurangan limbah dan optimalisasi data.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, MEDCONNEX diharapkan menjadi jembatan bagi percepatan hilirisasi dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab bagi masa depan Indonesia.
Head of Committee METCONNEX 2026, Bara Dipol Yadi, menegaskan ajang ini bukan sekadar forum pertemuan tetapi juga sebagai ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, serta perkembangan teknologi terkini di sektor pertambangan dan metalurgi.
“Ini bentuk kontribusi nyata komunitas alumni dan profesional dalam mendukung kemajuan industri nasional, sekaligus menjembatani kebijakan dan implementasi di dunia Mining dan Metalurgi Indonesia,” ujarnya.
Di tengah transisi energi hijau, sinkronisasi teknologi dari hulu ke hilir dinilai krusial. Integrasi pertambangan dan pemurnian metallurgy diyakini mampu menciptakan efisiensi operasional, stabilitas pasokan, serta daya saing berkelanjutan.
Tantangan seperti fluktuasi harga komoditas, kebutuhan investasi teknologi pengolahan, hingga tuntutan dekarbonisasi mendorong industri mempercepat adopsi inovasi.
Ardianto, menyebut penguatan hilirisasi tak bisa jalan sendiri. Dalam konteks tersebut, integrasi yang lebih erat antara sektor pertambangan di bagian hulu dan sektor pengolahan dan pemurnian/metallurgy di bagian hilir akan menjadi kunci untuk menciptakan efisiensi operasional, stabilitas pasokan, serta daya saing industri yang berkelanjutan.
Kata dia, METCONNEX 2026 dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan industri dengan inovasi teknologi. Forum ini mendorong pemangku kepentingan mengadopsi teknologi terkini, meningkatkan efisiensi proses, serta memastikan praktik industri selaras prinsip keberlanjutan.
Chairman ITB Metallurgy Alumni Association, Erika Silva, menambahkan, kegiatan ini merefleksikan komitmen memperkuat ekosistem hilirisasi.
Melalui forum ini, para pemangku kepentingan didorong untuk mengadopsi teknologi terkini, meningkatkan efisiensi proses, serta memastikan praktik industri yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Ekosistem pertambangan METCONNEX 2026 akan digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) dengan agenda komprehensif. Pada 11 Mei 2026, diselenggarakan Technical Mineral Processing Short Course bagi profesional untuk mendalami metode pengolahan mineral terkini. Selanjutnya, 12–13 Mei 2026, berlangsung Conference & Exhibition yang mempertemukan pemimpin industri, pembuat kebijakan, dan inovator teknologi.
