ITMG Ekspor Batu Bara Terbanyak ke China, Importir Kedua Ternyata Bukan India

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) atau ITM merilis deretan negara yang menjadi destinasi ekspor batu bara perseroan sepanjang tahun buku 2025. China menempati urutan teratas sebagai pelanggan terbesar perseroan dan kedua ternyata bukan India.

Tercatat, penjualan batu bara ITMG ke China mencapai 34% pada tahun buku 2025. Sementara, Jepang menempati urutan kedua sebagai negara yang paling banyak menyerap batu bara hasil produksi ITMG sebesar 18% setelah China.

India yang diperkirakan sebagai importir terbesar setelah China ternyata berada di posisi ketiga dengan persentase 9% dan menyusul berikutnya, Filipina sebesar 4%. Negara lainnya yang menjadi importir batu bara ITMG sepanjang 2025 berasal dari negara-negara di wilayah Asia Pasifik seperti Korea dan Taiwan.

Sedangkan, serapan batu bara ITMG di dalam negeri atau Indonesia tercatat mencapai 22% pada 2025. Sepanjang 2025, emiten batu bara ini tercatat memproduksi batu bara total 21,2 juta ton, tumbuh 5% dibanding periode sebelumnya.

Selain itu, ITMG juga mencatatkan kinerja positif dari sisi volume penjualan mencapai 24,7 juta ton, naik 3%. Namun, pada sisi pendapatan terkoreksi 18% dari tahun sebelumnya menjadi US$1.881 juta akibat melemahnya harga jual rata-rata (ASP) batu bara perseroan.

Laba kotor ITMG tercatat sebesar US$483 juta dengan marjin laba kotor 26%, dan laba bersih sebesar US$195 juta. Berkat peningkatan efisiensi dan pengendalian biaya secara disiplin, dan meningkatnya akurasi perencanaan tambang, ITMG mempertahankan neraca keuangan tetap sehat.

Pada akhir Desember 2025, total aset perseroan tercatat stabil pada angka US$2.406 juta, dengan total ekuitas sebesar US$1.908 juta. Posisi kas dan setara kas pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar US$808 juta, mewakili 34% dari total aset perusahaan.

Pada 2025, ITMG fokus memperkuat ketahanan operasional salah satunya penguatan berkelanjutan klaster Melak melalui struktur manajemen integrasi sejumlah tambang perseroan sehingga menciptakan pemanfaatan bersama sumber daya dan infrastruktur, serta efisiensi organisasi.

Selain itu, ITMG juga menerapkan pembiayaan secara disiplin di seluruh kegiatan pertambangan, dan pembangunan fondasi solid bagi pengembangan bisnis jangka panjang. Strategi tersebut diyakini bakal berkontribusi pada pelaksanaan operasional yang lebih konsisten serta pengawasan yang lebih efektif pada seluruh aktivitas pertambangan.

Di luar operasi inti batu bara, 2025 juga menjadi fase lanjutan dari diversifikasi ITMG. Pada segmen energi terbarukan, perseroan melanjutkan pengembangan portofolio pembangkit listrik tenaga surya melalui proyek atap (rooftop) dan pembangkit surya berskala utilitas (solar farm).

Hingga akhir 2025, total kapasitas operasional entitas anak energi terbarukan ITM mencapai 63,7 MWp, mencerminkan kemajuan yang konsisten yang didukung oleh portofolio proyek berkontrak yang telah dikembangkan sejak tahun 2021.

Target Penjualan ITMG 

ITMG menargetkan volume penjualan batu bara pada kuartal I-2026 sebesar 6,8 juta ton. Angka tersebut mencerminkan sekitar 27,5% dari total volume penjualan yang dicatatkan perseroan pada tahun buku 2025 sebesar 24,7 juta ton.

Dari sisi produksi, ITMG mengincar total volume produksi sebesar 5,1 juta ton pada periode yang berakhir hingga Maret 2026. Jika dibandingkan dengan total produksi batu bara pada tahun buku 2025 yang mencapai 21,2 juta ton, maka target volume produksi ITM tersebut merefleksikan 24,1%.

Menariknya, sebesar 45% (3,06 juta ton) dari target volume penjualan batu bara ITMG pada kuartal I-2026, harganya sudah berkontrak dengan harga tetap, sehingga tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga batu bara di pasar global.

Sementara sekitar 54% (3,67 juta ton) dari target dijual dengan menggunakan skema harga berbasis indeks pasar dan 1% atau 0,068 juta ton sisanya belum memiliki kontrak penjualan. Saat ini, harga batu bara global dibanderol di US$135,25 per ton, menguat 14,13% atau US$16,75 dalam sepekan terakhir.

Meski demikian, kenaikan harga tersebut masih jauh bila dikomparasikan dengan harga batu bara pada September 2022 yang puncaknya mencapai US$440 per ton. Artinya, harga emas hitam masih terdiskon 69,3% dari harga tertingginya.

Trading Economics mengestimasikan harga batu bara akan berada di level US$135,77 pada akhir kuartal pertama tahun ini dan US$143,22 per ton dalam 12 bulan ke depan. Kenaikan ini menyusul masih memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Editor: Muawwan Daelami

Sumber:

– 08/03/2026

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 23 April 2026

baca selengkapnya

Antam Kirim Tim ke Olimpiade Rescue Tambang Dunia

baca selengkapnya

Suhendra Ratuprawira Lepas Jabatan Direktur PT Timah (TINS)

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top