Laba Antam (ANTM) Melonjak 46% Jadi Rp9,66 Triliun Kuartal III/2026

PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam membukukan laba periode berjalan sebesar Rp9,66 triliun sepanjang Januari-September 2026, melonjak 46% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,61 triliun. Pertumbuhan laba ini ditopang oleh peningkatan penjualan emas dan nikel, serta penguatan kinerja operasional perseroan.

Berdasarkan laporan kinerja perseroan, penjualan bersih Antam mencapai Rp88,48 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 23% dibandingkan dengan Rp72,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pasar domestik mendominasi penjualan dengan kontribusi Rp83,86 triliun atau sekitar 95% dari total penjualan bersih.

Direktur Utama Antam Untung Budiharto mengatakan, capaian kinerja pada 9M26 menunjukkan kemampuan ANTAM dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika industri pertambangan.

“Kami terus memperkuat fundamental bisnis melalui optimalisasi operasional, penguatan strategi komersial, serta pengembangan portofolio usaha untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Untung dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (28/10/2026).

Dari sisi profitabilitas, Antam mencatatkan laba kotor sebesar Rp15,56 triliun, naik 42% dibandingkan dengan Rp10,98 triliun pada Januari-September 2025. Laba usaha juga meningkat 53% menjadi Rp12,05 triliun dari sebelumnya Rp7,89 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan laba, EBITDA Antam mencapai Rp13,48 triliun, meningkat 45% dibandingkan dengan Rp9,33 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih per saham dasar naik 48% menjadi Rp367,78 dari Rp248,62.

Emas dan Nikel Jadi Penopang

Produk emas masih menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan Antam dengan porsi 77% sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Penjualan emas mencapai Rp68,41 triliun, meningkat 17% dibandingkan dengan Rp58,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Volume penjualan emas tercatat mencapai 25.217 kilogram atau sekitar 810.745 troy ounce. Adapun produksi emas dari tambang perseroan mencapai 634 kilogram.

Antam terus memperluas jangkauan pemasaran produk Logam Mulia melalui pengembangan portofolio produk, peningkatan kualitas layanan, perluasan kanal distribusi, serta kolaborasi dengan mitra strategis di dalam negeri.

Sementara itu, segmen nikel yang mencakup feronikel dan bijih nikel menyumbang 19% terhadap total penjualan perseroan. Pendapatan segmen ini tumbuh 52% menjadi Rp16,98 triliun dari Rp11,15 triliun pada Januari-September 2025.

Dari sisi operasional, produksi bijih nikel Antam mencapai 12,16 juta wet metric ton (wmt), sedangkan penjualannya mencapai 10,73 juta wmt. Produksi feronikel tercatat sebesar 11.638 ton nikel dalam feronikel (TNi), sementara penjualannya meningkat 71% menjadi 13.971 TNi dari sebelumnya 8.182 TNi.

Pada segmen bauksit dan alumina, penjualan meningkat 35% menjadi Rp2,64 triliun dari Rp1,95 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Produksi bauksit mencapai 2 juta wmt, sedangkan volume penjualannya tumbuh 49% menjadi 1,64 juta wmt.

Produksi chemical grade alumina (CGA) juga meningkat 14% menjadi 153.399 ton. Penjualan alumina tercatat sebesar 146.642 ton, naik 9% dibandingkan dengan 134.768 ton pada Januari—September 2025.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira menyampaikan bahwa peningkatan kinerja hingga September 2026 mencerminkan perbaikan kualitas profitabilitas dan penguatan posisi kas perseroan.

“Capaian tersebut didukung oleh pengelolaan modal kerja yang efektif, pengendalian biaya yang disiplin, serta penerapan manajemen risiko yang terukur, sehingga ANTAM dapat menjaga fundamental keuangan yang solid secara berkelanjutan,” tutur Arini.

Dari sisi neraca, total aset Antam meningkat 24% menjadi Rp59,74 triliun per akhir periode pelaporan, dibandingkan dengan Rp48,07 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ekuitas perseroan juga naik 17% menjadi Rp41,22 triliun dari Rp35,20 triliun.

Kas dan setara kas tercatat sebesar Rp10,54 triliun, meningkat 14% dibandingkan dengan Rp9,26 triliun pada Januari-September 2025. Adapun arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp5,06 triliun, tumbuh 26% dari Rp4,02 triliun.

Penerimaan kas dari pelanggan turut meningkat 29% menjadi Rp87,92 triliun dari Rp68,24 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Antam menyebut pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan serta pengelolaan modal kerja yang efektif.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman

Sumber:

– 28/10/2026

Temukan Informasi Terkini

BMKS Ditargetkan Beroperasi Januari 2027, OJK Dorong Kolaborasi Pelaku Industri

baca selengkapnya

Kinerja Adaro Andalan (AADI) Ditopang Harga Batubara, Cek Rekomendasi Sahamnya

baca selengkapnya

Permintaan AI Melonjak, Tembaga Pimpin Prospek Logam Industri di 2026

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top