Harga batu bara masih dalam tren kenaikan. Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 135,55 per ton pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Harganya menguat 0,78%.
Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 3,9% dalam lima hari terakhir.
Kenaikan harga batu bara salah satunya ditopang masih tingginya harga minyak. Harga minyak brent melonjak ke level tertinggi enam pekan menjadi US$ 95 per barel pada Rabu kemarin.
Batu bara dan minyak adalah komoditas yang saling mensubstitusi sehingga harganya saling memengaruhi.
Kenaikan juga ditopang permintaan.
Kementerian Keuangan Jepang melaporkan bahwa impor batu bara termal Jepang pada Juni 2026 meningkat 18,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy) menjadi 7,148 juta ton.
Sementara itu, harga batu bara termal di pelabuhan utara China mulai kehilangan momentum kenaikan, meski biaya produksi dan pengiriman meningkat. Penyebab utamanya adalah stok batu bara yang masih sangat tinggi di pelabuhan dan pembangkit listrik sehingga pembeli tidak terburu-buru melakukan pembelian.
Harga mulai stagnan setelah sempat pulih, karena kenaikan biaya produksi tidak mampu mengalahkan tekanan dari tingginya persediaan batu bara di pelabuhan.
Permintaan dari utilitas dan pembangkit listrik juga dikabarkan masih lesu. Meski memasuki puncak musim panas yang biasanya meningkatkan konsumsi listrik, perusahaan listrik memilih membeli sesuai kebutuhan karena stok mereka sudah tinggi.
Persediaan di pelabuhan dan pembangkit tetap melimpah, sehingga pembeli memiliki posisi tawar lebih kuat dan tidak bersedia menerima kenaikan harga.
Gangguan pasokan, seperti inspeksi keselamatan di tambang dan berkurangnya pengiriman kereta api, memang memberikan dukungan pada harga, tetapi dampaknya terbatas karena pasokan yang tersedia di pelabuhan masih sangat besar.
Pelaku pasar menilai kenaikan harga yang berkelanjutan sulit terjadi kecuali terjadi penurunan stok yang signifikan atau lonjakan permintaan listrik selama musim panas. (mae/mae)
