Permintaan Mineral Kritis Naik, Industri Nikel RI Didorong Lebih Berkelanjutan

Meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral kritis untuk mendukung transisi energi dan pembangunan rendah karbon mendorong berbagai pihak memperkuat pengembangan industri nikel yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Isu tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Indonesia Critical Minerals Conference and Expo (ICM) 2026.

Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, organisasi internasional, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas strategi penguatan daya saing industri mineral Indonesia.

Pembahasan dalam ICM 2026 mencakup penerapan prinsip keberlanjutan, pengembangan industri hijau, serta praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam rantai pasok mineral.

Indonesia dinilai memegang peran strategis

Deputy to the Director General and Managing Director of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Ciyong Zou menyebut, meningkatnya permintaan global terhadap mineral kritis menempatkan Indonesia pada posisi yang semakin penting dalam rantai nilai mineral dunia.

Karena itu, pengembangan sektor mineral dinilai perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi, pengurangan emisi, serta penciptaan manfaat sosial yang lebih luas bagi masyarakat.

Dorong kawasan industri berkelanjutan

Sebagai bagian dari rangkaian ICM 2026, Tsingshan Group bersama UNIDO menyelenggarakan High-Level Forum on Mineral Sustainable Development and Eco-Industrial Parks.

Forum tersebut berfokus pada pengembangan kawasan industri berkelanjutan melalui penerapan prinsip Eco-Industrial Park (EIP), praktik ESG, serta upaya mendorong transformasi industri yang lebih hijau dan efisien.

Dalam kesempatan itu, Tsingshan Holding Group dan UNIDO juga menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pada 4 Juni 2026.

Kerja sama tersebut ditujukan untuk mendukung pelaksanaan program Industrial Park Pilots for Sustainable Development of Mineral-Based Industries in Indonesia (IP4SD).

Program tersebut diarahkan untuk mendukung penerapan prinsip Eco-Industrial Park di kawasan industri berbasis mineral melalui peningkatan efisiensi sumber daya dan kinerja lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Melalui program IP4SD, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) ditetapkan sebagai proyek percontohan Eco-Industrial Park.

Inisiatif tersebut diharapkan dapat mendukung transformasi kawasan industri mineral menuju kawasan industri yang lebih hijau.

Fokus pada rantai pasok mineral berkelanjutan

Vice President Tsingshan Holding Group, Scott Ye, mengatakan pengembangan rantai pasok mineral yang berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi industri global menuju ekonomi rendah karbon.

“Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Republik Indonesia, UNIDO, pelaku industri, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, Tsingshan berkomitmen mendukung transformasi Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menuju sistem industri yang lebih hijau, efisien, dan bertanggung jawab, sekaligus mendorong kolaborasi di seluruh rantai pasok mineral agar manfaat ekonomi, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan secara seimbang,” ujar Ye.

Menurut dia, kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam membangun sistem industri mineral yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah

Program IP4SD juga disebut sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pengembangan kawasan industri berwawasan lingkungan.

Kebijakan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2024 tentang Perwilayahan Industri yang mendorong penerapan prinsip efisiensi energi, ekonomi sirkular, dan produksi bersih di kawasan industri.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan organisasi internasional, berbagai inisiatif yang dibahas dalam ICM 2026 diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri mineral yang kompetitif sekaligus berkelanjutan di tingkat global.

Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis, penguatan praktik keberlanjutan dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing industri sekaligus mendukung transformasi menuju ekonomi rendah karbon.

Sumber:

– 10/06/2026

Temukan Informasi Terkini

Laba ANTM 2025 Melonjak 106 Persen, Ini Tiga Mesin Pertumbuhannya

baca selengkapnya

RUPST Antam Rombak Direksi-Komisaris, Tunjuk Direktur Keuangan Baru

baca selengkapnya

Harga Saham Anjlok 25%, Saham BUMN Tambang (ANTM) Beri Dividen Jumbo Rp 5 Triliun

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top