Pertambangan Masih Terkontraksi, Gangguan Produksi Freeport dan RKAB jadi Pemicu

Sektor pertambangan menjadi satu-satunya lapangan usaha yang terkontraksi pada kuartal II/2026.

Salah satu faktor pemicunya adalah belum pulihnya operasi tambang bawah tanah Freeport Indonesia di Grasberg, Papua Tengah, pasca-insiden longsor atau aliran lumpur pada September 2025.

Pada triwulan II/2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lapangan usaha pertambangan menyusut 1,64% secara tahunan (year-on-year/yoy). Adapun, secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 tumbuh 5,29% yoy.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menjelaskan, berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian dengan pangsa 18,50%, diikuti pertanian sebesar 13,57%, perdagangan 13,02%, konstruksi 9,79%, dan pertambangan 8,87%.

Namun, dari lima sektor dengan kontribusi terbesar tersebut, hanya pertambangan yang mengalami kontraksi. Edy menjelaskan, penyusutan sektor itu dipicu oleh melemahnya subsektor pertambangan bijih logam serta penambangan batu bara dan lignit.

“Kondisi ini disebabkan oleh, pertama, pertambangan bijih logam yang terkontraksi sebesar 9,42% akibat penurunan produksi beberapa komoditas tambang, seperti bijih bauksit, bijih timah, dan bijih nikel,” ujarnya dalam Rilis Berita Resmi Statistik, Rabu (5/8/2026).

Selain itu, dia memerinci, faktor penyebab lainnya adalah operasi tambang bawah tanah di Grasberg Block Cave Provinsi Papua Tengah, yang belum juga pulih pasca-insiden longsor atau aliran lumpur yang terjadi pada September 2025.

Faktor pemicu lainnya adalah penataan kuota produksi melalui rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan mendorong perbaikan harga batu bara di pasar internasional.

“Penambangan batu bara dan lignit juga terkontraksi sebesar 1,41%. Hal ini disebabkan oleh penataan kuota produksi melalui rencana kerja dan anggaran biaya [RKAB] tahun 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan mendorong perbaikan harga batu bara di pasar internasional,” ujarnya.

Pada saat yang sama, Edy menjelaskan, sektor pertambangan gas dan panas bumi terkontraksi sebesar 2,15%.

Di luar pertambangan, BPS mencatat mayoritas lapangan usaha masih membukukan pertumbuhan positif. Industri pengolahan tumbuh 4,52%, pertanian 3,80%, perdagangan 6,39%, dan konstruksi 6,68%.

Sementara itu, pertumbuhan tertinggi dicatat oleh lapangan usaha pengadaan listrik dan gas yang meningkat 10,81%, diikuti penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 10,60%, informasi dan komunikasi 6,97%, administrasi pemerintahan 6,89%, serta jasa kesehatan 6,88%.

BPS menjelaskan pertumbuhan sektor pengadaan listrik dan gas didorong peningkatan penjualan listrik pada hampir seluruh kelompok pelanggan, terutama rumah tangga, bisnis, dan industri.

Adapun, penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh seiring meningkatnya tingkat okupansi hotel dan membaiknya kinerja jasa boga yang didukung semakin luasnya jangkauan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh didorong semakin luasnya pemanfaatan jasa telekomunikasi di berbagai sektor, antara lain kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan sektor lainnya. Editor : Denis Riantiza Meilanova

Sumber:

– 05/08/2026

Temukan Informasi Terkini

Pasca Longsor, Freeport Bisa Produksi Tambang Bawah Tanah 65% H2-2026

baca selengkapnya

Bumi Resources (BUMI) Berencana Akuisisi Loyal Metals, Berikut Perkembangannya

baca selengkapnya

Pushep: Relaksasi RKAB Berbasis Royalti Perlu Disertai Kriteria yang Transparan

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top