Petrosea (PTRO) Masuk Bisnis Emas, Investasi di Tolu Minerals

Emiten jasa pertambangan terafiliasi Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO) mulai merambah bisnis tambang emas melalui investasi strategis di Tolu Minerals Limited.

Langkah ini menandai diversifikasi portofolio perseroan di tengah prospek jangka panjang komoditas emas yang dinilai masih menjanjikan.

Presiden Direktur PTRO Michael mengatakan Petrosea telah menyelesaikan proses binding offer pada 20 April 2026 terkait investasi dalam instrumen convertible note yang diterbitkan Tolu.

Nilai investasi tersebut mencapai 23,75 juta dolar Australia, yang memberikan hak bagi perseroan untuk mengonversinya menjadi 14,6 juta saham baru dengan harga 1,625 dolar Australia per saham. Dengan asumsi kurs sekitar Rp10.500 per dolar Australia, maka nilai 23,75 juta dolar Australia setara Rp249,4 miliar.

Investasi ini merupakan bagian dari strategi ekspansi ke kawasan Papua Nugini sekaligus upaya memperkuat diversifikasi usaha di luar bisnis inti jasa pertambangan.

“Kami melihat peluang sinergi yang kuat seiring dengan rencana pengembangan proyek Tolu menuju fase produksi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).

Selain potensi imbal hasil dari instrumen investasi, langkah ini juga membuka peluang kemitraan operasional. Petrosea berencana menjajaki skema kerja sama komersial dalam penyediaan jasa pertambangan dan layanan pendukung lainnya untuk proyek milik Tolu.

Sebagai informasi, Tolu Minerals merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga yang tercatat di Australian Securities Exchange dan saat ini mengoperasikan Tambang Emas Tolukuma di Papua Nugini.

Perusahaan tersebut juga memiliki sejumlah proyek eksplorasi di kawasan Pacific Ring of Fire yang dikenal kaya akan kandungan mineral, khususnya emas dan tembaga.

Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun, Petrosea selama ini dikenal sebagai perusahaan multidisiplin yang menyediakan layanan terintegrasi mulai dari EPC, jasa pertambangan, EPCI lepas pantai, hingga logistik untuk sektor pertambangan dan minyak dan gas. Editor : Ibad Durrohman

Sumber:

– 23/04/2026

Temukan Informasi Terkini

Produksi Logam Timah TINS Turun jadi 17.815 Metrik Ton Sepanjang 2025

baca selengkapnya

Antam Dukung Hilirisasi Timah, Meski Belum Memiliki Operasional di Sektor Tersebut

baca selengkapnya

Kuota Produksi Turun, Pengusaha Tambang Siap Ajukan Revisi RKAB pada Semester II-2026

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top