PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) optimistis mampu mencapai target produksi 49,55 juta ton hingga akhir tahun kendati realisasi pada semester I/2026 turun 10% secara tahunan.
PTBA mencatatkan penurunan produksi batu bara sebesar 10% YoY menjadi 19,45 juta ton pada semester I/2026. Namun, kinerja produksi tercatat mampu meningkat 94% secara kuartalan (quarter-on-quarter) di awal tahun ini. Adapun, penyebab lemahnya tingkat produksi pada kuartal I/2026 adalah tingkat hujan yang tinggi.
Akan tetapi, penurunan produksi mampu dikompensasi dengan adanya perbaikan stripping ratio dari 6,17x menjadi 5,26x pada paruh pertama 2026 dibandingkan dengan 2025. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan acuan perusahaan 5,63x untuk sepanjang tahun ini, sehingga mengindikasikan efisiensi tambang yang lebih baik.
Stripping ratio adalah perbandingan antara volume tanah atau batuan penutup (overburden atau waste) yang harus dikupas dan dipindahkan untuk mendapatkan 1 ton batu bara.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Bukit Asam Tbk. Una Lindasari optimistis perseroan dapat mencapai target tersebut.
“Rata-rata produksi pada dua bulan terakhir di atas 5 juta per bulan, sehingga kami bisa mencapai target,” ujar Una dalam Public Expose Live PTBA, Senin (7/9/2026).
Sementara itu, kinerja penjualan batu bara PTBA tercatat turun 2% secara tahunan menjadi 21,10 juta ton. Pada semester I/2025, perseroan mampu menjual 21,62 juta ton batu bara.
Penjualan pada semester I/2026 tetap resilien meskipun terdapat kendala transportasi sementara. Efektivitas manajemen inventaris mampu memastikan permintaan pasar tetap dapat terpenuhi. Adapun, kombinasi penjualan tetap seimbang di pasar domestik maupun ekspor.
Selain pasar domestik yang berkontribusi sebesar 51%, PTBA mengekspor produknya ke sejumlah negara seperti Vietnam (12%), Bangladesh (10%), Kamboja (7%), hingga India (6%).
Meski demikian, PTBA mampu mengantongi pendapatan sebesar Rp22,03 triliun pada semester I/2026, naik 8% dari Rp20,45 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh harga Indonesian Coal Index (ICI) yang meningkat dan bauran penjualan yang optimal. (Nabilla Almi/MagangHub)
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Rio Sandy Pradana
