Trump Buat Pengusaha Batu Bara RI Senyum-Senyum

Harga batu bara masih membara di tengah lonjakan harga minyak dan besarnya permintaan.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 134,5 per ton pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Harganya naik 0,56%.

Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 3,07% dalam empat hari terakhir.

Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 17 Juni 2026 atau lebih dari sebulan terakhir.

Kenaikan harga batu bara ditopang harga minyak dan permintaan.

Harga minyak terbang ke US$ 91 per barel, rekor tertinggi sejak 10 Juni 2026. Harga minyak juga sudah melesat 8% dalam tiga hari beruntun.

Batu bara dan minyak adalah komoditas yang saling mensubstitusi sehingga harganya saling memengaruhi.

Kenaikan harga batu bara juga ditopang permintaan.

Dewan Batu Bara Nasional (National Coal Council/NCC), yang menjadi penasihat pemerintahan Presiden Donald Trump, mendesak Departemen Energi AS (DOE) memberikan dukungan berupa jaminan pinjaman dan hibah untuk mempertahankan operasional PLTU yang ada serta membangun pembangkit batu bara baru.

Dalam pertemuan di Washington, NCC mengajukan 19 rekomendasi, termasuk peningkatan investasi infrastruktur batu bara, perjanjian pembelian listrik (PPA), serta penghapusan berbagai hambatan regulasi bagi pembangunan PLTU.

Pemerintahan Trump juga mengubah fokus lembaga pembiayaan DOE untuk mendukung agenda kebangkitan industri batu bara, termasuk mendorong pencabutan aturan emisi gas rumah kaca bagi PLTU. Pada 2025, batu bara menyumbang sekitar 17% produksi listrik AS, sementara produksi batu bara naik 3% menjadi sekitar 528 juta ton.

Awas Kuartal III Melemah

S&P Global memperkirakan pasar batu bara metalurgi (metallurgical coal) Asia yang diperdagangkan melalui jalur laut memasuki kuartal III-2026 setelah reli harga yang dipimpin China mulai mereda.

Permintaan impor batu bara kokas premium di China melemah seiring melimpahnya stok di pelabuhan dan mulai pulihnya produksi domestik. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke India sebagai calon penggerak permintaan berikutnya.

Pada kuartal II, harga batu bara kokas premium melonjak hingga US$265 per ton, tertinggi sejak Maret 2024, dipicu kecelakaan tambang di Shanxi yang mengganggu pasokan domestik China.

Namun, kenaikan harga diperkirakan sulit berlanjut karena produksi batu bara China mulai pulih dan permintaan baja masih lesu.

Di sisi lain, India diperkirakan baru akan kembali meningkatkan pembelian menjelang akhir kuartal III setelah musim hujan (monsoon). Selama kuartal II, pembeli India lebih mengandalkan kontrak jangka panjang dan persediaan yang ada, sementara impor kokas tetap tinggi, terutama dari Indonesia.

Pelaku pasar menilai arah harga batu bara kokas pada kuartal III akan sangat bergantung pada apakah China kembali meningkatkan impor serta apakah India mulai aktif membeli di pasar spot.

Sementara itu, Sxcoal melaporkan pasar met coke China melemah pada awal pekan ini setelah sejumlah pabrik baja besar di Provinsi Hebei meminta pemangkasan harga kokas. Langkah ini dilakukan untuk mengalihkan tekanan biaya ke hulu karena margin keuntungan pabrik baja terus menyusut.

Sebelumnya, produsen kokas masih mampu mempertahankan harga berkat gangguan pasokan batu bara kokas (coking coal). Namun kini posisi tawar berbalik karena permintaan baja melemah dan profitabilitas pabrik baja semakin tertekan.

Sejumlah produsen baja besar mengusulkan pemotongan harga kokas sebesar CNY 50 per ton. Jika diterapkan, ini akan menjadi penurunan harga pertama sejak reli harga pada Juni lalu.

Permintaan baja mulai melemah akibat musim panas yang mengurangi aktivitas konstruksi, sementara produksi baja tetap tinggi. Kondisi ini membuat margin produsen baja menyempit sehingga mereka menekan harga bahan baku, termasuk kokas.

Di sisi lain, pasokan batu bara kokas mulai pulih seiring semakin banyak tambang di Shanxi yang kembali beroperasi setelah sempat dihentikan karena inspeksi keselamatan. Hal ini mengurangi kekhawatiran kekurangan pasokan bahan baku.

Persediaan kokas di sejumlah pabrik juga mulai meningkat karena pengiriman ke pabrik baja melambat. Akibatnya, produsen kokas semakin sulit mempertahankan harga dan berpotensi harus menerima penurunan harga lebih lanjut. (mae/mae)

Sumber:

– 22/07/2026

Temukan Informasi Terkini

Indeks Bisnis-27 Ditutup Naik 1,40%, DEWA, BRMS, dan BUMI Jadi Penopang

baca selengkapnya

Beroperasi Kemballi, United Tractors (UNTR) Bidik Penjualan Emas Martabe 60.000 Ons

baca selengkapnya

Hilirisasi Nikel Belum Maksimal Dongkrak Industri Manufaktur Baterai, Ini Alasannya

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top