Volume Ekspor Batu Bara Januari-Agustus 2026 Merosot 9,33%

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor komoditas unggulan Indonesia, batu bara, mengalami tren pelemahan dari sisi volume meski mengalami penguatan nilai selama periode Januari-Agustus 2026.

Berdasarkan data BPS, volume pengiriman batu bara ke pasar internasional merosot 9,33%, yaitu dari 251,13 juta ton menjadi 227,70 juta ton.

Namun, kenaikan volume ekspor tersebut kontras dengan nilai ekspor batu bara, yang masih tumbuh 4,31% dari US$15,90 miliar menjadi US$16,58 miliar.

“Batu bara secara kumulatif nilai ekspornya mengalami peningkatan sebesar 4,31%,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers pada Kamis (1/10/2026).

Pertumbuhan nilai ekspor yang terjadi di tengah penurunan volume pengiriman ini didorong oleh kenaikan harga batu bara global.

Harga batu bara kualitas tinggi di pasar internasional pada Agustus 2026 melonjak sebesar 20,50% secara tahunan (year-on-year/yoy). Begitu pula dengan batu bara kualitas sedang dan rendah, yang meningkat sebesar 3,75% secara yoy.

China dan India masih menjadi pasar tujuan utama yang menopang permintaan batu bara asal Indonesia. Tren peralihan musim dan penguatan aktivitas industri di negara mitra tersebut diperkirakan akan memicu peningkatan arus pengiriman barang pada paruh kedua tahun ini.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengatakan instansinya telah menyetujui 95% pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara 2026.

Meski demikian, Tri enggan memberikan angka detail RKAB batu bara 2026 yang telah disetujui sejauh ini.

“[Sebanyak] 95% RKAB keluar, sudah selesai,” ujar Tri saat ditemui awak media usai agenda Hari Pertambangan dan Energi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Ihwal jumlah perkiraan atau forecast produksi batu bara Indonesia secara keseluruhan pada 2026, Tri memang tidak memberi detail.

Namun, dia menyatakan prediksi total produksi tetap sama dengan yang sebelumnya dia sebutkan, yaitu sekitar 720 juta metrik ton (mt) atau dengan rata-rata produksi sekitar 60 juta mt per bulan.

“Ya sekitar itu [720 juta mt] lah,” kata Tri. (ros)

Sumber:

– 01/10/2026

Temukan Informasi Terkini

Adaro (AADI) Divestasi Kestrel Rp14,5 Triliun, Rancang Dividen

baca selengkapnya

Merdeka Gold (EMAS) Kucurkan Pinjaman Rp 6,45 Triliun ke PIN, Ini Efeknya ke Pani

baca selengkapnya

Bahlil Rangkap Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM, Ini Agenda yang Bakal Dikebut

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top