Volume Ekspor Produk Nikel Turun 12,14%, tetapi Nilai Naik 69,30%

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor produk nikel secara volume mengalami penurunan sebesar 12,14% secara year-on-year (yoy), dari 1,11 juta ton pada Januari-Juni 2025 menjadi 1,06 juta ton pada Januari-Juni 2026.

Meski begitu, nilai ekspor produk nikel sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai US$6,54 miliar, naik 69,30%, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$4 miliar.

“Nikel dan barang daripadanya mengalami kenaikan nilai ekspor 69,30%, meski volumenya turun 12,14%,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, dikutip Rabu (5/8/2026).

Ekspor produk nikel yang tercatat dalam kode HS 75 (nickel and articles thereof) tercatat paling banyak dikirim ke China dengan volume sekitar 982,47 ribu ton atau setara 92,64% dari total ekspor produk nikel Indonesia pada periode tersebut.

Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy mengatakan produk hilirisasi nikel, seperti nickel pig iron (NPI), memiliki porsi ekspor lebih besar ketimbang feronikel (FeNi).

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, volume ekspor nickel pig iron (NPI) periode Januari-Juli 2025 jauh lebih banyak yaitu sebesar 6.628.389 ton jika dibandingkan dengan volume ekspor FeNi dalam periode yang sama sebanyak 37.006 ton.

Dari data ini, volume ekspor NPI mendominasi secara mutlak, yakni sekitar 179 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan volume ekspor feronikel sepanjang periode tersebut.

Sekadar catatan, ferro alloy atau paduan besi merupakan paduan logam yang menggabungan unsur besi dengan unsur lainnya. Salah satunya merupakan feronikel, yang merupakan bahan baku komoditas besi dan baja nirkarat.

Feronikel yang merupakan paduan nikel dan besi umumnya memiliki kandungan nikel sekitar 20%-40%.

Pada tahun lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi feronikel Indonesia mencapai 579.430 ton. Sementara tahun ini, target produksinya mencapai 540.400 ton.

Secara umum, kapasitas terpasang smelter Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) yang turut memproduksi feronikel tercatat sebesar 2,3 juta ton nikel per tahun. (ros)

Sumber:

– 05/08/2026

Temukan Informasi Terkini

Pertambangan Masih Terkontraksi, Gangguan Produksi Freeport dan RKAB jadi Pemicu

baca selengkapnya

Pasca Longsor, Freeport Bisa Produksi Tambang Bawah Tanah 65% H2-2026

baca selengkapnya

Bumi Resources (BUMI) Berencana Akuisisi Loyal Metals, Berikut Perkembangannya

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top