Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia dengan ketahanan (resilience) tinggi terhadap guncangan harga energi global.
Hal ini sebagaimana diketahui dari laporan terbaru JP Morgan berjudul ‘Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026’. Laporan yang dirilis pada Maret 2026 itu menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang merepresentasikan sekitar 82% konsumsi energi dunia.
Salah satu indikator utama yang digunakan adalah total insulation factor, yaitu ukuran proporsi energi suatu negara yang tidak bergantung pada minyak dan gas global. Konsep sederhananya, negara yang bergantung pada impor energi berarti sangat rentan, sedangkan negara yang punya sumber energi domestik dan diversifikasi berarti lebih tahan.
Indonesia pun menempati posisi kedua tertinggi di dunia dengan indikator penyangga (insulation factors) sebesar 77%. Artinya, RI tahan dengan guncangan harga energi global.
Sementara itu, posisi pertama ditempati oleh Afrika Selatan dengan skor indikator penyangga mencapai 79%. Kemudian, posisi ketiga ditempati oleh China dengan skor 76%.
Selanjutnya, di posisi keempat ditempati oleh Uzbekistan dengan skor indikator penyangga sebesar 71%. Lalu, kelima ada Amerika Serikat (AS) dengan skor 70% dan keenam ada Australia dengan skor 68%.
Lebih terperinci, JP Morgan menggunakan dua indikator utama untuk mengukur ketahanan energi suatu negara. Kedua indikator itu yakni eksposur (ketahanan) dan indikator penyangga.
Pada indikator eksposur, ukuran yang membuat negara rentan terhadap guncangan energi global mencakup lima faktor. Kelima faktor itu yakni, ketergantungan impor minyak, ketergantungan impor gas, ketergantungan pasokan dari Selat Hormuz, porsi konsumsi minyak dan gas dalam ekonomi, serta intensitas energi terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara pada indikator penyangga mencakup empat faktor yakni produksi gas domestik, produksi batu bara domestik, energi nuklir, dan energi baru terbarukan (EBT).
Pada indikator eksposur, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mencapai 16%. Lalu, ketergantungan pada impor gas -8%, ketergantungan pasokan dari Selat Hormuz 1%, porsi konsumsi minyak dan gas dalam ekonomi 29%, serta intensitas energi terhadap PDB 0,7%.
Untuk indikator penyangga, produksi gas domestik RI mencapai 22%, produk batu bara domestik 48%, energi nuklir 0%, dan EBT 7%. Dengan data tersebut, skor indikator penyangga Indonesia berada di level 77%.
Dengan tingkat ketergantungan impor yang relatif rendah, eksposur Indonesia terhadap lonjakan harga energi global lebih terbatas dibandingkan banyak negara lain.
Namun demikian, Indonesia tetap menghadapi risiko. Konsumsi minyak nasional masih signifikan dan sebagian pasokan dipenuhi melalui impor sehingga perekonomian tetap sensitif terhadap dinamika harga energi dunia. Editor : Denis Riantiza Meilanova
