Kinerja emiten tambang yang berada dalam ekosistem MIND ID menunjukkan, sektor pertambangan masih menjadi salah satu penopang penting pasar modal Indonesia pada semester I-2026.
Empat emiten utama, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), secara agregat membukukan pendapatan sekitar Rp 104,77 triliun.
Capaian itu naik 14,84 persen secara tahunan dibandingkan Rp 91,23 triliun pada semester I-2025.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, hal lain yang menarik untuk diamati adalah, laba bersih agregat melonjak 116,67 persen menjadi Rp 13,60 triliun dari Rp 6,28 triliun.
“Artinya, pertumbuhan laba jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan, yang menunjukkan adanya perbaikan margin, efisiensi, serta membaiknya harga jual sejumlah komoditas,” kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (2/8/2026).
Ia menambahkan, faktor utama yang mendorong kinerja tersebut adalah kombinasi antara harga komoditas yang relatif kuat, peningkatan volume penjualan pada beberapa emiten, serta pengendalian biaya.
Peluang emiten pertambangan bersinar di sisa 2026
Pada ANTM, emas masih menjadi mesin utama kinerja, sementara kontribusi dari bisnis nikel dan hilirisasi memberikan tambahan daya dorong.
Pendapatan ANTM mencapai Rp 62,71 triliun atau tumbuh 6,26 persen, sedangkan laba bersih melonjak 36,03 persen menjadi Rp 6,39 triliun.
Hal ini menunjukkan, pertumbuhan profit tidak semata-mata berasal dari peningkatan penjualan, tetapi juga dari perbaikan margin dan efisiensi operasional.
“Prospek ANTM juga relatif menarik karena memiliki diversifikasi komoditas yang lebih baik dibandingkan emiten tambang yang hanya bergantung pada satu komoditas,” imbuh dia.
Kemudian PTBA membukukan pendapatan semester I-2026 mencapai Rp 22,03 triliun atau tumbuh 7,70 persen, tetapi laba bersih justru melonjak 218,01 persen menjadi Rp 2,65 triliun.
Lonjakan laba yang jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan menunjukkan keberhasilan perseroan dalam menjaga biaya dan meningkatkan efisiensi operasional.
Ini menjadi penting karena harga batubara tidak lagi berada pada level supercycle seperti beberapa tahun lalu.
Dengan demikian, kemampuan PTBA mempertahankan volume produksi dan penjualan serta menjaga biaya menjadi faktor utama yang menentukan kinerja hingga akhir tahun.
“PTBA saat ini bukan hanya mengandalkan kenaikan harga batu bara, tetapi semakin mengandalkan efisiensi untuk mempertahankan margin,” ucap dia.
Hendra menjelaskan, saham TINS mencatatkan pertumbuhan paling agresif.
Pendapatan semester I-2026 mencapai Rp 10,42 triliun, atau melonjak 146,95 persen, sedangkan laba bersih melejit 804,67 persen menjadi Rp 2,71 triliun dari Rp 300 miliar.
Kinerja tersebut menunjukkan adanya kombinasi yang sangat kuat antara kenaikan harga timah, peningkatan volume penjualan, serta basis laba tahun sebelumnya yang relatif rendah.
Namun, justru karena pertumbuhannya sangat tinggi, TINS juga memiliki risiko volatilitas paling besar.
Investor harus melihat apakah harga timah dan volume produksi dapat dipertahankan pada semester II-2026.
“Jika harga komoditas mengalami koreksi tajam, pertumbuhan laba TINS juga berpotensi mengalami normalisasi,” ucap dia.
Sementara itu, INCO membukukan pendapatan Rp 9,61 triliun atau tumbuh 27,39 persen, dengan laba bersih meningkat 313,68 persen menjadi Rp 1,85 triliun.
Perbaikan ini menunjukkan, bisnis nikel mulai memberikan kontribusi yang lebih positif terhadap profitabilitas perseroan.
Menurut Hendra, prospek INCO dalam jangka menengah tetap menarik karena Indonesia masih memiliki agenda hilirisasi nikel yang kuat.
Namun, dalam jangka pendek saham ini tetap sensitif terhadap pergerakan harga nikel global dan biaya produksi.
“Artinya, ruang pertumbuhan masih terbuka, tetapi investor perlu melihat keberlanjutan margin, bukan hanya pertumbuhan laba semester I-2026,” kata dia.
Hendra berujar, untuk semester II hingga akhir 2026, prospek keempat saham tersebut masih cukup positif, tetapi dengan karakter yang berbeda.
Sebagai contoh, ANTM memiliki prospek relatif paling defensif karena ditopang bisnis emas sekaligus nikel.
PTBA memiliki kekuatan dari sisi efisiensi dan kemampuan menghasilkan arus kas, tetapi masih menghadapi tantangan dari harga batu bara.
Di sisi lain, TINS memiliki potensi pertumbuhan laba paling tinggi, tetapi juga memiliki volatilitas paling besar karena sangat bergantung pada harga timah.
Sementara INCO menarik dari sisi prospek hilirisasi nikel, tetapi kinerjanya tetap sangat dipengaruhi siklus harga nikel global.
Kinerja fundamental belum tecermin ke harga saham
Dari sisi pergerakan saham, kinerja fundamental tersebut ternyata belum sepenuhnya tecermin secara merata.
Saham ANTM berada pada harga Rp 3.100 masih mencatat penurunan 1,59 persen sepanjang tahun.
Sedangkan PTBA sudah naik 19,05 persen dan TINS melonjak 31,19 persen.
Sedikit berbeda, saham INCO hanya naik 0,48 persen.
Hendra menjelaskan, kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan ekspektasi pasar.
TINS dan PTBA sudah mendapatkan apresiasi lebih besar, sementara ANTM dan INCO relatif tertinggal.
Dengan kata lain, pasar sudah memberikan premi kepada saham yang dianggap memiliki momentum laba paling kuat, tetapi masih ada peluang rerating pada saham yang secara fundamental membaik namun harga sahamnya belum mengikuti.
Untuk rekomendasi ia menilai, ANTM masih menarik untuk speculative buy dengan target Rp 3.500.
Fundamental yang solid, pertumbuhan laba yang kuat, serta posisi harga yang masih relatif tertinggal membuat ANTM memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan apabila sentimen komoditas tetap positif.
Sementara itu, rekomendasi untuk saham PTBA adalah trading buy dengan target Rp 2.900.
Namun, karena kenaikan sepanjang tahun atau year to date (ytd) sudah cukup tinggi, investor perlu memperhatikan aksi profit taking dan memastikan kenaikan berikutnya tetap didukung volume transaksi yang sehat.
Kemudian, rekomendasi TINS adalah speculative buy dengan target Rp 4.250.
Momentum fundamentalnya sangat kuat, tetapi kenaikan harga saham yang sudah mencapai 31,19 persen sepanjang tahun membuat risiko koreksi juga semakin besar.
Oleh karena itu, TINS lebih cocok untuk investor yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi dan tidak mengejar harga ketika sudah terlalu agresif naik.
Sementara INCO lebih menarik dengan strategi buy on weakness di sekitar Rp 5.000 dengan target Rp 5.500.
Dengan kenaikan ytd hanya 0,48 persen, ruang untuk mengejar kinerja fundamental masih terbuka apabila harga nikel membaik dan pasar mulai memberikan apresiasi terhadap prospek hilirisasi perseroan.
Secara keseluruhan, kinerja MIND ID pada semester I-2026 menunjukkan, fundamental emiten tambang mulai mengalami perbaikan yang signifikan.
Namun, Hendra mengimbau, investor tetap perlu membedakan antara pertumbuhan laba yang bersifat berkelanjutan dan pertumbuhan yang sangat bergantung pada lonjakan harga komoditas.
Ia berpandangan, saat ini justru saham yang belum terlalu banyak naik tetapi fundamentalnya membaik memiliki daya tarik lebih besar untuk dicermati.
Dengan alasan tersebut, ANTM dan INCO masih memiliki ruang rerating. Sementara saham PTBA dan TINS sudah lebih dahulu mendapatkan apresiasi pasar.
“Strateginya bukan sekadar mengejar emiten dengan pertumbuhan laba terbesar, tetapi mencari kombinasi antara pertumbuhan laba, kualitas fundamental, prospek komoditas, dan valuasi saham yang masih masuk akal,” tutup dia.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.
