Bos Amman (AMMN) Klarifikasi Soal Rumor IPO Dual Listing di Hong Kong

PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) membantah kabar yang menyebutkan perseroan tengah mempersiapkan IPO dan dual listing di Bursa Hong Kong.

Emiten tambang tersebut menegaskan informasi yang beredar masih bersifat spekulatif dan belum mencerminkan keputusan perusahaan.

Direktur Utama Amman Mineral Internasional Arief Widyawan Sidarto mengatakan hingga saat ini perseroan tetap berfokus menjalankan strategi bisnis yang telah ditetapkan serta menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.

“Informasi yang diberitakan oleh artikel pada media massa tersebut bersifat spekulasi. Sampai dengan tanggal surat ini, fokus perseroan adalah menjalankan strategi bisnis yang telah ditetapkan dan penciptaan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” ujar Arief dalam surat tanggapan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (16/7/2026).

Dalam surat bernomor S-08364/BEI.PP2/07-2026 tertanggal 15 Juli 2026, BEI meminta penjelasan mengenai kebenaran informasi tersebut serta kemungkinan adanya informasi material lain yang dapat memengaruhi kelangsungan usaha maupun pergerakan harga saham AMMN.

Menjawab permintaan tersebut, manajemen AMMN menegaskan hingga saat ini tidak terdapat informasi, fakta, maupun kejadian penting lainnya yang bersifat material dan dapat memengaruhi kelangsungan usaha maupun harga saham perseroan.

Dengan demikian, perusahaan memastikan belum terdapat perkembangan material yang perlu diungkapkan kepada publik di luar informasi yang telah disampaikan sesuai ketentuan keterbukaan informasi.

Klarifikasi ini sekaligus menjadi penegasan AMMN kepada pelaku pasar agar tidak menjadikan spekulasi yang beredar sebagai dasar pengambilan keputusan investasi sebelum terdapat pengumuman resmi dari perseroan.

Dari sisi kinerja, Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey memprediksi kinerja AMMN akan moncer pada 2026, terutama didorong booming harga komoditas seperti tembaga dan emas.

BRI Danareksa menyematkan target harga Rp6.000 untuk AMMN dengan peringkat beli. Audrey dalam catatannya mengatakan bahwa AMMN memasuki siklus pendapatan utama pada tahun ini karena perkembangan Fase 8 Tambang Batu Hijau mengembalikan volume produksi dan kadar bijih.

“Kami memperkirakan pendapatan 2026 sebesar US$4 miliar, naik 117% YoY dan EBITDA US$2 miliar, naik 97% dengan produksi Batu Hijau yang lebih tinggi, naik 130% YoY,” katanya dalam riset.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Rio Sandy Pradana

Sumber:

– 16/07/2026

Temukan Informasi Terkini

MK tegaskan pemberian prioritas WIUP harus dengan parameter jelas

baca selengkapnya

Putusan MK: Izin Tambang Prioritas untuk Hilirisasi Wajib Dulukan Pasokan Domestik

baca selengkapnya

Pakar ESG Ingatkan Fase Paradoks Sektor Tambang

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top