Bukit Asam: Tunjukkan Spirit dan Komitmen Kuat untuk Capai Zero Fatality

Buat perusahaan yang bergerak di industri pertambangan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi terkait dengan isu Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Di antaranya, adanya risiko tinggi terkait pengelolaan medan operasional dan penanganan alat-alat berat.

Lokasi tambang yang terpencil sering menyulitkan akses darurat, ditambah lagi adanya cuaca ekstrem (misalnya, hujan deras) bisa menyebabkan jalan licin dan banjir. Juga ada potensi kecelakaan fatal dari pengoperasian alat berat (seperti dump truck besar dan ekskavator), potensi longsor, dan bahaya di area hauling. Hal ini pun bisa diperparah dengan kemungkinan faktor human error, akibat kelelahan kerja (fatigue).

Prioritas utama

Tantangan-tantangan terkait isu K3 seperti itu tentu juga dihadapi PT Bukit Asam Tbk. (PTBA). Perusahaan milik pemerintah di bawah perusahaan holding MIND ID ini bergerak di bidang pertambangan, pengolahan, dan perdagangan batu bara, dengan lokasi operasional utama di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Bagi perusahaan yang didirikan pada 1981 ini, tantangan-tantangan di atas mungkin juga diperberat oleh kompleksitas koordinasi kontraktor dan kebutuhan membangun budaya keselamatan yang disiplin di area operasionalnya yang luas. Sebagai gambaran, total jumlah pekerja yang terlibat dalam operasional di Tanjung Enim mencapai sekitar 17.000 orang (termasuk dari mitra kerja).

Menurut Yuhendri Wisra, SHE Corporate Division Head PT Bukit Asam Tbk., keselamatan kerja telah menjadi salah satu prioritas utama di lingkungan perusahaannya. Komitmen ini telah dinyatakan secara konsisten oleh jajaran top management (direksi) PTBA.

“Bahkan, Direktur Utama menegaskan bukan hanya kecelakaan kerja yang harus dihindari, goresan kecil pun harus menjadi perhatian serius,” kata Yuhendri. “Ini menunjukkan adanya semangat untuk mencapai zero accident atau zero fatality.”

Dukungan pemimpin

Perhatian manajemen puncak terhadap isu K3 ditunjukkan dengan adanya program Top Management Tour. Dalam kegiatan ini, jajaran direksi —seperti Direktur Operasi dan Produksi— turut terlibat langsung untuk melihat kondisi operasional di lapangan. PTBA juga punya kegiatan Top Talk Safety: manajemen puncak berdialog langsung dengan karyawan mengenai isu keselamatan kerja.

Dari segi struktur, PTBA sudah cukup lama memiliki tim Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) yang berada di bawah pengawasan Kemnaker RI. Ketua P2K3 dijabat oleh Kepala Teknik Tambang yang merupakan pemimpin tertinggi di unit operasional, biasanya setingkat General Manager (GM). Wakil Ketua dijabat oleh pemimpin divisi terkait K3, dan kepengurusan ini melibatkan pula jajaran Division Head (BOD-1) hingga Department Head (BOD-2).

“Keterlibatan berbagai level pimpinan bertujuan agar pengelolaan keselamatan kerja tidak hanya menjadi tanggung jawab satu unit, tetapi menjadi komitmen bersama di organisasi,” Yuhendri menjelaskan.

Selain itu, ada pula struktur organisasi keselamatan kerja perusahaan yang membawahkan bidang Safety, Health and Environment (SHE), dipimpin oleh seorang Division Head. Di bawahnya, ada beberapa Department Head yang mengelola berbagai fungsi terkait K3. Lalu, untuk perusahaan kontraktor yang bekerjasama dengannya, PTBA juga telah mewajibkan mereka memiliki HSE Officer.

Bukti lain dari perhatian serius PTBA terhadap masalah K3 yaitu dari segi peraturan atau pedomannya. Terutama, dengan telah diterapkannya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

Selain SMK3, PTBA juga telah memiliki Sistem Manajemen Bukit Asam yang diaudit setiap tahun, Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan, hingga pedoman keselamatan kerja yang disebut sebagai Golden Rules yang diperbarui secara berkala.

PTBA pun telah mengadopsi sejumlah standar internasional. Di antaranya, ISO 45001 yang berkaitan dengan SMK3, dan ISO 14001:2015 yang berkaitan dengan sistem manajemen lingkungan. “Penerapan standar ini diaudit secara berkala,” ujar Yuhendri.

Untuk mengomunikasikan berbagai kebijakan tentang K3, selain melalui kegiatan Safety Talk di antara manajemen dan karyawan, PTBA juga memanfaatkan sarana komunikasi digital. Di antaranya, melalui aplikasi internal SHE is Priority (SIP). Aplikasi ini memuat berbagai informasi penting, seperti SHE News, SHE Message, dan SHE Campaigne yang berisi pembaruan terkait kebijakan, kampanye keselamatan, serta informasi terkini mengenai K3.

Selain itu, telah disediakan pula sistem pengetahuan (Knowledge Management) internal yang disebut SHEPedia. Platform ini berfungsi sebagai pusat dokumentasi yang menghimpun seluruh peraturan, pedoman, dan kebijakan perusahaan terkait K3.

Menghitung risiko

Dalam melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko, di tahap awal tim K3 meninjau berbagai aspek di lokasi kerja, seperti kondisi area kerja, jenis peralatan yang digunakan, serta faktor lingkungan yang dapat memengaruhi keselamatan. Selanjutnya, digunakan Hazard Checklist sebagai alat bantu identifikasi.

Misalnya, pada front penggalian tambang, aspek yang diperiksa antara lain: keberadaan pengawas, kondisi area kerja, dan kesesuaian lebar jalan tambang dengan desain yang telah ditentukan. “Setiap area punya checklist yang berbeda sesuai dengan jenis aktivitas dan risiko yang ada,” kata Yuhendri.

Setelah potensi bahaya teridentifikasi, tahap selanjutnya ialah penilaian risiko dengan metode metrik risiko. Dengan metode ini, tingkat risiko dihitung dengan skala 1-5, menggunakan rumus probabilitas dikalikan dengan tingkat keparahan (severity).

“Keterlibatan berbagai level pimpinan bertujuan agar pengelolaan keselamatan kerja tidak hanya menjadi tanggung jawab satu unit, tetapi menjadi komitmen bersama di organisasi.”

Salah satu contoh kasus yang menjadi fokus identifikasi bahaya di area tambang adalah kondisi jalan operasional. Dalam perencanaan tambang telah ditetapkan bahwa lebar jalan harus 3,5 kali dari lebar bodi truk terbesar yang digunakan. Lalu, kemiringan jalan tak boleh melebihi 8 persen. Apabila ditemukan kondisi yang tak sesuai, dilakukan analisis Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko (IBPR) untuk menentukan tindakan perbaikan.

Proses IBPR didukung oleh aplikasi SIP, yang memungkinkan pelaporan dan pemantauan data keselamatan lebih terintegrasi. Juga ada pemantauan operasional secara real time melalui perangkat Mobile Digital Video Recorder yang dipasang pada unit kendaraan operasional. Sistem ini pun dilengkapi beberapa kamera yang dapat memantau perilaku pengemudi, termasuk indikasi kelelahan. Tak cuma itu, PTBA menerapkan pula sistem Electronic Traffic Law Enforcement untuk memantau kepatuhan terhadap aturan lalulintas di area tambang.

PTBA juga mewajibkan karyawan mengikuti pelatihan K3. Karyawan baru yang belum mengikuti pelatihan dasar K3 tidak diperkenankan memasuki area tambang. Partisipasi dalam pelatihan menjadi bagian dari KPI karyawan. Perusahaan ini pun mewajibkan sertifikasi kompetensi bagi para pekerja di posisi tertentu. Di antaranya, sertifikasi pengawas operasional, mulai dari tingkat POP (Pengawas Operasional Pertama), POM (Pengawas Operasional Madya), dan POU (Pengawas Operasional Utama).

Dengan menerapkan sejumlah langkah di atas, menurut Yuhendri, PTBA secara konsisten telah memperoleh penilaian dengan predikat PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup. Dalam hal keselamatan kerja, PTBA dalam beberapa tahun terakhir juga telah memperoleh penilaian tertinggi berupa predikat Gold dari Kementerian Ketenagakerjaan.

Meskipun begitu, diakui Yuhendri, berdasarkan evaluasi pada tahun 2025, PTBA mencatat bahwa jumlah insiden yang menimbulkan cedera masih cukup tinggi. Karenanya, manajemen puncak memberikan perhatian serius agar program keselamatan baru terus diperkuat.

Kabar baiknya, meskipun ada sejumlah insiden cedera, disebutkan Yuhendri, perusahaan berhasil mencapai target penting, yakni zero fatality sepanjang 2025, yang berarti tidak ada kecelakaan kerja yang menyebabkan kematian. Di lingkungan perusahaan pertambangan di bawah MIND ID, kinerja K3 dinilai terbaik kedua setelah PT Antam Tbk. Reporter : Syifa Nur Layla, Editor : Teguh Sri Pambudi

Sumber:

– 23/04/2026

Temukan Informasi Terkini

Antam Kirim Tim ke Olimpiade Rescue Tambang Dunia

baca selengkapnya

Suhendra Ratuprawira Lepas Jabatan Direktur PT Timah (TINS)

baca selengkapnya

Analisa JP Morgan: RI Peringkat 2 Dunia Paling Tahan Guncangan Energi Global

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top