Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI) meyakini hilirisasi bauksit tidak bakal berujung jenuh seperti hilirisasi nikel gegara serbuan investasi dari China, sebab industri bauksit terbilang lebih kompleks dibandingkan dengan nikel.
Ketua Umum ABI Ronald Sulistyanto mengatakan biaya pembangunan pabrik pengolahan bauksit juga terbilang lebih mahal jika dibandingkan dengan pembangunan smelter nikel.
Dia menjelaskan penambang bauksit saat ini sangat menjaga produksi bjih, bahkan produksi nasional diharapkan paling tinggi hanya sebesar 40 juta per tahun atau setara dengan besaran ekspor tertinggi yang pernah dilakukan Indonesia.
Dia mengungkapkan jika produksi bijih bauksit nasional dikerek menjadi sekitar 40-45 juta ton per tahun, cadangan bijih bauksit sekitar 2,86 miliar ton baru akan habis dalam 60 tahun mendatang.
Adapun, saat ini terdapat tiga pabrik pengolahan bauksit dengan kapasitas bijih sekitar 30 juta ton.
“Kalau nikel itu karena investasinya kecil. Kedua, environment-nya juga tidak serumit bauksit gitu. Kalau bauksit itu kita harapkan output bauksitnya enggak boleh lebih dari 40 juta,” kata Ronald ketika dihubungi, Rabu (22/4/2026).
“Kalau misal 40 [juta ton] kita pakai 45 [juta ton], kita masih ada panjang waktunya. Di atas 60 tahun itu cadangan bauksit ya,” lanjut Ronald.
Investasi Smelter
Ihwal smelter produk turunan bauksit, Ronald mencontohkan pabrik pengolahan alumina saja membutuhkan tanah sekitar 700-1.000 hektare (ha) untuk menghasilkan sekitar 2 juta ton. Pengolahan bauksit menjadi alumina juga memerlukan bahan kimia yang kompleks.
Sementara itu, pabrik pengolahan bauksit menjadi aluminium, terbilang mahal lagi sebab membutuhkan listrik yang cukup besar dan umumnya dipasok dari pembangkit listrik.
“Cuma memang power plant yang jadi masalah. Itu yang menjadikan biaya [smelter aluminium] tinggi. Akan tetapi, kalau pabriknya sendiri, pabrik aluminium sama pabrik alumina, lebih complicated alumina,” tegasnya.
Dia juga menyarankan pemerintah untuk membenahi peta jalan hilirisasi bauksit, agar aluminium yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh industri turunan.
“Supaya nanti produksi-produksi aluminium itu sudah bisa kita produksi sendiri. Maka kita bisa punya turunan-turunan yang lebih banyak. Itulah kita berdaya di negeri kita sendiri gitu,” ujar dia.

Peta ekspansi pabrik alumina di Indonesia. (Bloomberg)
Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan Indonesia saat ini memiliki 14 proyek smelter mineral terintegrasi dengan total nilai investasi US$8,69 miliar (sekitar Rp144,02 triliun), yang didominasi sektor bauksit.
Smelter bauksit terintegrasi sebanyak 6 proyek yang berjalan dengan nilai investasi US$2,18 miliar.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno sebelumnya menyebut 7 smelter bauksit masih mangkrak, dengan progres pembangunan di bawah 60%.
Keenam fasilitas pemurnian terintegrasi itu antara lain: PT Dinamika Sejahtera Mandiri yang terletak di Sanggau, Kalimantan Barat; PT Laman Mining di Ketapang, Kalimantan Barat; dan PT Kalbar Bumi Perkasa yang berlokasi di Sanggau, Kalimantan Barat.
Kemudian, ada pula PT Parenggean Makmur Sejahtera di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah; PT Persada Pratama Cemerlang di Sanggau, Kalimantan Barat; PT Quality Sukses Sejahtera di Pontianak, Kalimantan Barat; serta PT Sumber Bumi Marau di Ketapang, Kalimantan Barat.
Berdasarkan laporan Bloomberg sebelumnya, Tsingshan Holding Group Co. sedang bernegosiasi dengan raksasa perdagangan komoditas Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk mengamankan investasi di smelter aluminium barunya senilai US$3 miliar (sekitar Rp51,40 triliun).
Kesepakatan antara Tsingshan dan perusahaan perdagangan tersebut mengenai saham minoritas di pabrik peleburan kawasan industri Weda Bay akan memberikan para pedagang tersebut bagian dari hasil produksi dari fasilitas berkapasitas 800.000 ton tersebut, kata orang-orang yang mengetahui masalah ini.
Tsingshan —sebuah perusahaan yang telah menjadi kunci bagi munculnya Indonesia sebagai pemain dominan di sektor nikel— biasanya bermitra dengan produsen lokal dan perusahaan logam terkemuka China.
Di sektor aluminium, mereka telah bekerja sama dengan Huafon Group dan Xinfa Group untuk membangun dan mengoperasikan pabrik peleburan di kawasan industri Morowali, Sulawesi, dan di Maluku Utara, tempat Weda Bay berada.
Belanja modal untuk proyek aluminium baru ini diperkirakan mencapai lebih dari US$3 miliar, termasuk pabrik peleburan dan fasilitas pembangkit listrik terkait, kata sumber tersebut. Proyek ini akan dikembangkan dalam dua fase, masing-masing dengan kapasitas 400.000 ton, tambah mereka.
Tsingshan juga mempercepat proyek-proyek aluminium lainnya untuk memungkinkan grup tersebut masuk pada saat terjadi gejolak pasokan aluminium dunia akibat perang di Teluk Persia.
Dua pabrik di Indonesia akan menambah kapasitas produksi total sekitar 600.000 ton per tahun paling cepat bulan depan, kata sumber tersebut — lebih cepat dari target kuartal ketiga yang direncanakan. (azr/wdh)
