Harga batu bara masih membara di tengah kenaikan harga minyak dan persoalan pasokan.
Merujuk Refinitiv, harga batua bara pada perdagangan Kamis (20/8/2026) diitutup di posisi US$ 136,25 per ton. Harganya melesat 1,11%. Kenaikan harga ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 1,98% dalam empat hari terakhir.
Harga batu bara masih membara, salah satunya karena harga minyak.
Batu bara dan minyak adalah komoditas yang saling mensubstitusi sehingga harganya saling memengaruhi.
Harga kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik hampir 3% menjadi US$86,83 per barel. Sementara minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, naik lebih dari 2% menjadi US$93,78 per barel.
Dari India dilaporkan, harga batu bara kokas (coking coal) melonjak 25% tahun ini sehingga menekan margin produsen baja India sekaligus menunda ekspansi kapasitas industri baja.
India sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan batu bara kokasnya, bahkan mencapai 95% dari total permintaan.
Batu bara metalurgi ini merupakan salah satu bahan baku utama dalam proses produksi baja. Dibandingkan batu bara termal yang digunakan untuk pembangkit listrik, batu bara kokas memiliki kandungan karbon lebih tinggi serta kadar abu dan kelembapan yang lebih rendah.
Ketergantungan yang sangat besar terhadap impor membuat gangguan pasokan dan lonjakan harga sepanjang tahun semakin menekan produsen baja India.
Dikutip dari Reuters, harga premium coking coal Australia secara FOB melonjak 25% dalam tujuh bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut Banmeet Khurmi, kepala layanan pasar batu bara metalurgi dan kokas di konsultan CRU yang berbasis di Sydney.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari lambatnya peningkatan produksi tambang baru, kenaikan biaya akibat perang Iran, gangguan pasokan di Australia, hingga ledakan mematikan di tambang batu bara Shanxi, China, yang menewaskan lebih dari 80 orang dalam salah satu kecelakaan pertambangan terburuk di China dalam beberapa tahun terakhir.
Perusahaan tambang raksasa BHP mengatakan harga batu bara untuk pembuatan baja menguat dibandingkan level 2025.
Permintaan impor India yang kuat serta gangguan pasokan membuat pasar batu bara kokas melalui jalur laut yang sebelumnya seimbang menjadi lebih ketat.
India sendiri terus meningkatkan kapasitas produksi bajanya. Kapasitas produksi baja mencapai sekitar 220 juta ton per tahun (Mtpa) pada tahun fiskal 2026, naik 10% secara tahunan. Negara tersebut menargetkan kapasitas produksi baja mencapai 500 Mtpa pada 2047, yang sebagian besar akan mengandalkan teknologi tanur tinggi (blast furnace).
Namun, analis memperkirakan biaya batu bara kokas bagi produsen baja India masih akan tetap tinggi setidaknya hingga paruh kedua 2026, akibat berkurangnya pasokan dari China dan Australia.
Masalahnya, produsen baja India menghadapi dilema. Mereka harus membayar lebih mahal untuk bahan baku utama, tetapi sulit menaikkan harga baja karena harus menghadapi persaingan dari produk baja China. Kondisi ini berpotensi semakin menggerus margin keuntungan produsen baja India. (mae/mae)
