Harga Batu Bara Naik, China Kembali Bergantung pada Energi Fosil

Harga batu bara naik pada perdagangan Senin (18/5/2026). Kenaikan itu didorong meningkatnya penggunaan batu bara di China di tengah krisis energi global akibat perang Iran dan terganggunya pasokan LNG dunia.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Mei 2026 naik US$ 0,8 menjadi US$ 132,5 per ton. Kontrak Juni 2026 melonjak US$ 1,5 ke level US$ 138 per ton, sedangkan Juli 2026 melesat US$ 1,6 menjadi US$ 140,45 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam bergerak juga menguat. Kontrak Mei 2026 naik US$ 1,4 menjadi US$ 110,6 per ton. Kontrak Juni 2026 menguat US$ 2,65 menjadi US$ 118,45 per ton, sedangkan Juli 2026 naik US$ 2,7 ke level US$ 120,8 per ton.

Dikutip dari Bloomberg, China semakin meningkatkan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik di tengah krisis energi global akibat perang Iran. Kondisi tersebut terlihat dari kenaikan produksi listrik termal selama empat bulan berturut-turut pada April 2026.

Produksi listrik termal China naik 3,1% dibanding periode sama tahun lalu untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan listrik domestik. Di sisi lain, produksi listrik dari turbin angin dan pembangkit nuklir justru mengalami penurunan.

Ironisnya, produksi batu bara China malah turun 1% pada April, periode yang biasanya identik dengan pemeliharaan musiman tambang.

Kondisi tersebut mencerminkan tantangan besar yang dihadapi Beijing dalam menjaga stabilitas energi nasional setelah konflik Iran memicu gangguan besar di pasar energi global.

Penutupan de facto Selat Hormuz telah menghambat sekitar seperlima pasokan gas alam cair (LNG) dunia. Akibat lonjakan harga LNG, China mulai mengurangi impor gas alam dan kembali mengandalkan batu bara sebagai sumber utama pembangkit listrik.

Harga Domestik Melonjak

Harga batu bara termal acuan domestik China tercatat melonjak sekitar 23% sejak awal tahun. Pemerintah bahkan meminta pembangkit listrik meningkatkan stok batu bara menjelang musim panas yang biasanya memicu lonjakan konsumsi listrik.

Meski demikian, reli harga batu bara mulai kehilangan momentum setelah perusahaan utilitas menolak kenaikan biaya yang terlalu tinggi. Pelaku pasar juga khawatir pemerintah China dapat memberlakukan pembatasan harga apabila kenaikan terus berlanjut.

Di sisi lain, pertumbuhan energi bersih di China mulai kehilangan momentum. Produksi listrik tenaga angin pada April turun 5% dibanding tahun sebelumnya meski kapasitas turbin baru terus bertambah.

Produksi listrik nuklir juga melemah akibat sejumlah pembangkit menjalani pemeliharaan. Sementara itu, pembangkit listrik tenaga surya skala besar dan tenaga air masih mencatat pertumbuhan.

Performa energi terbarukan yang melemah menjadi perhatian serius karena pembangunan turbin angin dan panel surya baru juga melambat dibanding rekor pertumbuhan tahun lalu.

Selain itu, tingkat curtailment atau pemborosan listrik energi bersih meningkat akibat keterbatasan jaringan distribusi. Operator listrik China kini mempercepat pembangunan jaringan transmisi dan fasilitas penyimpanan baterai untuk mendukung distribusi energi bersih yang lebih stabil. Editor: Indah Handayani

Sumber:

– 19/05/2026

Temukan Informasi Terkini

PT Timah Setorkan Rp 1,62 Triliun ke Negara

baca selengkapnya

Tambang Masih Tertekan, RI Cari Jalan Jaga Investor

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) Periode II Mei 2026 Naik, Kalori Tinggi US$116,32 per Ton

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top